Freeze Your Email for 100 Years

Email Freezer

MailFreezr.com is a freezer of email messages for 1-100 years.

I had been looking through a suitcase of my late grandmother and found sealed envelope in which there was a letter of ten years prescription.
She made all her noises regarding our family. What beautiful words there were! I’ll never forget them!

To receive remote regards from the past… There is something romantic, unexplored and mysterious! Do you want to afford these fantastic feelings to your folks?
Now it’s real to do it!

You shouldn’t worry that a paper can deteriorate, that ink can fade or that a letter can be just lost among other papers…
Now all is easy as pie! Send email to your folks, which they will exactly receive through scores of years!!! 😉
Make a declaration of love, share your feelings, tell the story which you passed over in silence. May be you disclose some family skeleton, which become the history for your descendant!
Perhaps you will not be alive, but your message will be delivered.

It will be like a voice from the world beyond!
Take care of it in advance 😉

Advertisements

Tempat Makan dan Wisata Kuliner di Bali

List yang direcomended dari beberapa teman dimilist.

  • Nasi Ayam Kedewatan; ada dua cabang, di kedewatan deket Ubud atau di Jalan Tukad Badung, Denpasar
  • Nasi Ikan Mak Beng; di depan pantai (masuk dari jalan Radisson hotel, lurus ke paling ujung jalan). Nasi + ikan goreng + sup ikan, biasanya jam 3-an udah tutup kerna abis
  • Nasi Campur di pantai Segara, Sanur; di jalan pantai Segara. Buka jam 7 pagi, jam 9 biasanya dah abis juga…
  • Nasi Campur Ibu Oka, di deket pasar seni Ubud (non-halal)
  • Babi Guling Chandra, jalan Teuku Umar (non-halal)
  • Warung Wardana, Jalan Merdeka, Denpasar; nasi campur ayam gaya Bali
  • Bebek Goreng HT, Jalan Merdeka, Denpasar; cabang dari Bebek Karang Empat, Sby

  • Pondok Rawon, jalan Merdeka Denpasar; aneka makanan Jawa Timur seperti rawon, rujak cingur, sop buntut etc
  • Resto Padang Sederhana, Jalan Teuku Umar atau di deket pengkolan Simpang Siur
  • Depot Mi Akai, Jalan Teuku Umar, Denpasar (dekat kompleks Citibank); mi ayam jamur, gyoza, air alang-alang
  • Sate plecing Jalan Yudhistira, Denpasar (non-halal)
  • Depot Sumber Asih, Jalan Veteran, Denpasar; makanan Surabaya seperti nasi rames, sop buntut, pecel
  • Warung Ibu Tinuk, Jalan Teuku Umar atau di Jalan Raya Kuta deket Apotik Kimia Farma; pecel, aneka sayur, ayam goreng etc
  • Furama, Jalan Raya Kuta deket airport; bubur, chinese food
  • Laota, Jalan Raya Kuta; bubur, chinese food, seafood
  • Depot Kepiting Super, Jalan Bypass Ngurah Rai; cobain kepiting bumbu padang yum… tel. 755046
  • Resto Laka Leke, Ubud: specialis bebek goreng renyah telp 977565
  • Resto Bali Nikmat, Jalan Raya Kuta deket Alfa; Chinese and seafood. Cobain kepiting/udang telor asin, tumis terong. tel. 755715
  • Warung Batan Waru, sebelah Discovery Mall; makanan Indonesia dan bule. Tel. 766303
  • Ikan Bakar Cianjur, Renon. Gurame pesmol, tahu sumedang, lalap, sayur asin etc. Tel. 230015
  • D-Corner Cafe, Jalan Danau Poso, Sanur; Western dan Indonesian. Cobain grilled snapper dan mango tea.. tel. 288737
  • Nasi padang Lapau (di By pass Sanur, sesusah arena cafe)
  • Warung Batavia. Es Doger ama Rujaknya enak.
  • Makanan sunda, bisa datang ke pawon ulam atau rumah makan cianjur di Renon. Biasanya disana rame pagi, siang, sore jadi mungkin bisa reserved dulu.
  • Cafe Tahu – ada yang menuju bedugul dan yang di Jl Oberoi
  • Warung Batavia – yang baru di jalan Kunti 2
  • Food court – di jl pantai kuta sebelah nya kama sutra dan di jl.sunset road sebelah nya sushi tei (ini menyediakan berbagai macam makanan indo-western dll)
  • Restaurant Mentari – bedugul (prasmanan makanan indonesia)

Image Mosaic Generator (v2.0)

“If an image is worth a thousand words, an image mosaic is worth a million words”

CLIK Here to Create Mosaic

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah

A ji Wegig berbicara tentang adat istiadat di Bali dikaitkan dengan arus modernisasi, masih tetap ajeg dan kuat berakar di hati sanubari masyarakat Bali.

Ilmu Hitam yang di kenal dengan istilah “Pengeleakan” di bali, adalah merupakan suatu ilmu yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dengan segala manifestasinya dalam fungsinya untuk memprelina (memusnahkan ) manusia di muka bumi.

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah Di Bali Ilmu tersebut dikenal masyarakat luas sejak dulu, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat.

Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.

Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati.

Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih.

Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong “Aji Wegig” yaitu aji berarti ilmu, wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain.

Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut “Ngiwa”.
Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.
Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.

Lontar –lontar artinya buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.

Pada jaman Raja Airlangga yang berkuasa di Kerajaan Kediri yaitu pada abad ke-14 ada seorang Ibu yang menguasai Ilmu Pengleakan yang bernama Ibu Calonarang. Pada waktu Ibu Calonarang masih hidup pernah menulis buku lontar Ilmu Pengleakan empat buah yaitu :

Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, Lontar Jung Biru.

Calonarang adalah nama julukan seorang perempuan yang bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri.

Calonarang berstatus Janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda atau dalam bahasa Bali disebut balu, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.

Calonarang adalah Ratu Leak yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri Gerubug (wabah) yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.

Kisah ceritanya adalah sebagai berikut :

Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).

Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.

Ilmu leak ini ada tingkatan – tingkatannya yaitu :

1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Ibu Calonarang Terhina

Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.

Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.

Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.

Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.

Ibu Calonarang berkata kepada Nyi Larung : “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.

Demikian kata-kata Ibu Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Ibu Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Ibu Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.

Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. “Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat. Demikian Ibu Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Gerubug Di Kerajaan Kediri

Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Anak-anak muda semuanya riang gembira bermain sambil mengembalakan sapi dan bebek di sawah. Mereka riang gembira, menemani orang tuanya yang sedang membajak sawah. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai tukang membuat rumah, pondok, bangunan suci seperti pura dan sanggah, atau membuat angkul-angkul atau pintu gerbang, dan lain-lain. Bagi kaum perempuan dan yang bekerja sebagai pedagang dengan menjual kue, nasi, kopi dan ada pula yang menenun kain untuk keperluan sendiri. Ada pula dari golongan pande bekerja khusus membuat perabotan pisau, sabit, parang, cangkul, keris, dan perabotan dari besi lainnya. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.

Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan sekaa gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.

Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.

Ketika penduduk Rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.

Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leak yang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah di bawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa. Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara.

Para murid atau sisya Ibu Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Malam yang sangat gelap kemudian ditambah dengan hujan gerimis yang memunculkan bau tanah yang angid, mambuat para leak menjadi semakin bersuka ria. Beberapa bola api bertebaran di angkasa berkejar-kerjaran dan menari-nari. Monyet-monyet besar, anjing bulu kotor, dan babi bertaring panjang berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir bercanda bersuka ria. Leak kambing, gegendu kerbau, gegendu jaran tampak jalan-jalan mengitari Kerajaan Kediri. Demikian pula dengan sosok Leak Celuluk yang berkelebat-kelebat dan bersandar di angkul-angkul rumah penduduk. Leak yang berwujud kreb kasa atau kain putih panjang bergulung-gulungan tampak melintang di jalanan. Di perempatan dan pertigaan jalan Desa, sosok Leak berwujud bade atau menara pengusungan mayat sedang menari-nari memenuhi jalanan. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calonarang.

Sungguh-sungguh seram memang pada malam itu. Penduduk desa tidak ada yang berani berkutik, apalagi keluar rumah. Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Setelah semalaman para leak berpesta pora, maka hari telah menjelang pagi. Tiba saatnya para Leak untuk kembali ke wujud semula. Karena begitulah hukumnya sebagai leak. Waktu mereka adalah di malam hari. Apabila mereka melanggar hukum tersebut maka mereka akan mendapatkan bahaya. Ketika hari menjelang pagi para leak pun kembali ke tempatnya semula, dan pulang ke rumah. Demikian pula dengan Ibu Calonarang beserta Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi dan Nyi Sedaksa kembali pulang ke rumah setelah pesta pora di malam hari. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasil dari kerja mereka semalam.

Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada malam harinya. Semuanya menceritakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka sempat saksikan malam itu dirumah masing-masing. Namun sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba saja ada seorang penduduk yang menjerit minta tolong. Orang tersebut mengatakan salah seorang keluarganya tiba-tiba saja sakit perut, muntah-muntah, dan mencret-mencret. Ketika mau memberikan pertolongan kepada penduduk di sebelah Barat tersebut, tiba-tiba saja tetangga di sebelah Timur menjerit minta tolong ada salah seorang keluarganya yang muntah dan mencret. Pagi itu, masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal. Demikian semakin panik masyarakat di desa. Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya. Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Kerajaan Kediri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.

Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal. Setiap hari kejadian tersebut terus berlangsung. Penduduk desa menjadi bingung dan panik. Ada yang berkehendak untuk mengungsi dan menghindar dari grubug tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan desanya. Namun ketika sampai di batas desa, mereka itu mengalami muntah berak dan meninggal seketika. Melihat keadaan seperti itu penduduk yang masih hidup menjadi semakin ketakutan. Ketika malam hari, mereka semua tidak ada yang berani tidur sendirian, dan tidak berani keluar rumah. Lolongan anjing tak henti-hentinya di malam hari. Burung gagak, katak dongkang, semuanya ribut saling bersahutan.

Adanya musibah yang menakutkan bercampur dengan sedih, para penduduk mencoba untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Setiap saat mereka memuja dan memohon kehadapan beliau agar bencana grubug ini segera berakhir, dan semua penduduk yang masih hidup diberkahi keselamatan dan kekuatan. Di samping itu perlindungan-perlindungan magis dipasang di depan pintu masuk pekarangan dan pintu rumah. Sesuai dengan petunjuk orang pintar atau sesuai dengan kebiasaan para tetuanya terdahulu. Penduduk memasang sesikepan atau pelindung magis seperti daun pandan berduri yang ditulisi tapak dara atau tanda palang dari kapur sirih, berisi bawang merah, bawang putih, jangu, juga benang tri datu yaitu benang warna merah, putih, hitam, dan pipis bolong atau uang kepeng. Jadi pada dasarnya semua dilakukan untuk menolak penyakit, dan memohon perlindungan kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Pada intinya mereka membicarakan mengenai masalah atau penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Kalau seandainya masalah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti penduduk desa akan habis semuanya.

Mereka tetap berharap agar semua masyarakat meningkatkan astiti bhaktinya atau pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan agar diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan umur panjang. Disamping itu pula para prajuru desa para penglingsir atau tetua desa beserta dengan para pemangku sepakat untuk melaporkan masalah ini kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug. Karena beliau sebagai penguasa atau sebagai Raja Kediri berhak tahu dan wajib untuk melindungi rakyatnya dari bencana. Demikian kesepakatan mereka dan merencanakan akan berangkat ke Istana besok pagi.

Ketika para tetua desa dan prajuru disertai dengan para pemangku masih berada di Bale pertemuan, tiba-tiba saja muncul seseorang yang bertubuh tinggi, kepala kribo, berkumis tebal dan brewok. Orang ini berjalan sempoyongan, dengan mata merah, dan bicaranya ngawur. Rupanya orang ini dalam keadaan mabuk. Orang tersebut datang di bale pertemuan dan berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah mencret. Pemabuk itu kemudian berkata : mana Leak Calonarang yang telah memakan anakku, akan aku santap bola matanya mentah-mentah. Demikian orang tersebut sesumbar dihadapan para sesepuh desa. Ketika setelah mengatakan sesumbar tersebut Si Brewok tiba-tiba saja muntah mencret tak tertahankan, dan akhirnya tewas di tempat.

Setelah beberapa saat Si Brewok tergeletak, kemudian para tetua desa tersebut menjadi teringat dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu ketika di Desa Girah. Mereka baru ingat bahwa Si Brewok inilah yang menjadi biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Manggali anak Ibu Calonarang. Bersama-sama dengan orang banyak, Si Brewok ini telah membuat fitnah Diah Ratna Mengali bisa ngeleak karena Ibunya Calonarang adalah orang sakti dan bisa ngeleak. Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug yang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri sekarang ini. Karena Calonarang merasa tersinggung dan terhina tidak akan tinggal diam. Mungkin saja ia akan membalas dendam sesuai dengan kemampuannya. Apalagi Calonarang adalah seorang yang sangat sakti dan memiliki murid yang sangat banyak. Sehingga dengan ilmu yang dimiliki mereka mencoba untuk menghancurkan desa-desa di Kerajaan Kediri dengan menebar penyakit gerubug. Rupanya mereka yang ada di sana mempunyai pikiran yang sama, dan sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri.

Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Sangat cepat perjalanan mereka, sehingga tidak diceritakan sampailah rombongan tersebut di bencingah atau alun-alun Istana Raja. Ketika di Istana rombongan tersebut menyaksikan suatu keadaan yang tenang, damai, dan biasa saja, jauh dari kesusahan, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi di desa sekarang ini. Di bencingah puri tampak sekelompok masyarakat yang sedang duduk-duduk di bawah rimbunnya daun beringin yang sangat besar yang tumbuh di becingah, seolah-olah memayungi rakyat Kediri dari terik sinar matahari. Bangsingnya atau akarnya yang menjulur sampai menyentuh tanah seolah-olah menjulurkan tangannya untuk menolong rakyat Kediri yang kesusahan. Mereka seperti biasa yang laki-laki beristirahat, sambil mengecel atau mengelus ayam aduan. Di sampingnya tampak berderet ayam aduan dengan beraneka warna, dan mekruyuk atau berkokok saling bersahutan. Disana, ada pula dagang kopi, dagang kue, dagang nasi, dengan be guling nyodog atau babi guling yang utuh dan diletakkan di atas meja dagangan.

Rombongan tersebut disapa oleh orang-orang yang ada di bencingah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam Istana Raja melalui pemedalan atau pintu keluar candi bentar yang megah, disandingkan dengan bale kulkul yang menjulang tinggi, dan bale bengong yang tampak mempesona, membuat mereka menjadi klangen atau kagum. Di hulu sebelah timur laut terdapat pemerajan puri atau tempat suci keluarga Raja yang sangat disucikan.

Mereka kemudian menghadap Prabu Airlangga di Bale penangkilan atau balai penghadapan. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Demikian hatur mereka semua kehadapan Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu menjawab dengan kata-kata yang agak berat, dan dengan roma muka yang agak tegang ketika itu.

“Kalau begitu keadaannya, penyebar gerubug di desa-desa wilayah pesisir tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Calonarang. Aku tidak akan meninjau ke desa lagi. Tetapi aku akan segara berupaya untuk menyelesaikan masalah kalian, dan menghadapi Calonarang yang sakti tersebut”.

“Pengerusakan dan penyebaran penyakit di desa-desa oleh Calonarang sebenarnya adalah tantangan langsung bagiku sebagai penguasa di Kerajaan Kediri. Aku akan menghadapi bagaimanapun ririh atau saktinya Calonarang. Calonarang sangat berani kepadaku, dan sangat besar dosanya karena telah membunuh banyak rakyatku yang tidak berdosa. Sangat besar dosanya terhadap kerajaan, sehingga orang tersebut harus mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal”. Demikian sabda Raja Kediri yang menabuh genderang perang terhadap Calonarang.

Sang Prabu juga menyampaikan pesan kepada rombongan Desa Girah sesampai di rumah nanti, beritahukan kepada seluruh rakyatku semuanya. Tenanglah, bersabarlah dan selalulah memuja kebesaran Ida Betara Tri Sakti yang berstana di Pura Kayangan Tiga. Selalulah berjaga-jaga di perbatasan desa sambil menghidupkan api obor sebagai penerangan dan sekaligus mohon perlindungan kehadapan Hyang Betara Brahma. Sebelum itu jangan lupa menghaturkan canang atau sesajen di sanggah atau tempat suci keluarga masing-masing agar para leluhur kita juga ikut membantu melindungi dari bahaya ini. Kemudian mohonlah sesikepan atau sarana magis yang bersarana bawang putih, jangu, benang tri datu, dan pipis bolong, sebagai sarana penolak leak. Demikian perintah dan sekaligus pesan Raja Kediri kepada rakyat beliau yang sedang ditimpa bencana gerubug dan salanjutnya para penghadap tersebut diijinkan untuk pamit kembali pulang. Tidak diceritakan perjalanan mereka, maka sampailah rombongan tersebut di rumah, dan segera memberitahukan apa yang menjadi titah Raja Kediri.

Raja Kediri Murka

Kembali diceritakan Prabu Airlangga Raja Kediri. Sepeninggalan rombongan Desa Girah, maka beliau sendirian duduk termenung di bale penangkilan. Pandangannya menerawang jauh kemana-mana, tangannya dikepalkan, dan tampak gelisah. Duduk bangun, demikianlah Sang Prabu sendirian di Istana. Tampaknya Sang Prabu tak kuasa menahan amarah dan panas hati beliau akibat ulah Calonarang. Sangat menakutkan sekali perangai beliau ketika itu. Diibaratkan macan gading atau harimau kuning yang akan menerkam mangsanya. Tak seorang pun parekan atau punakawan di puri atau istana yang berani menyapa beliau. Istri dan parekan atau punakawan di puri atau istana semuanya terdiam takut melihat gelagat Sang Prabu yang lagi murka. Tidak ada yang berani menghampiri dan menemani beliau ketika itu. Suguhan wedang atau kopi dan juga hidangan yang lainnya tidak disentuh sama sekali. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calonarang yang sakti tersebut.

Ketika hari menjelang siang, Sang Prabu belum juga beranjak dari tempat beliau duduk sejak pagi. Kemudian secara tak disangka-sangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana. Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar, pintar ilmu silat atau bela diri, dan menguasai beberapa ilmu kanuragan. Ia sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kediri, namun ia sendiri berpenampilan sangat sederhana, polos, dan sangat setia kepada Istana terutama kehadapan junjungannya yakni Prabu Airlangga Raja Kediri.

Sangat gembira sekali perasaan Sang Prabu ketika Ki Patih Madri muncul di Istana, dan segera Sang Prabu menyuruhnya mendekat untuk diajak bertukar pikiran. Bagaikan diperciki embun pagi yang sejuk perasaan Raja Airlangga ketika Ki Patih Madri datang pada saat yang diperlukan sekali. Sambil menikmati hidangan kopi yang telah disuguhkan, Sang Prabu berkata kepada Ki Patih Madri : “aku hari ini sangat kesal, marah dan bercampur sedih dalam hatiku. Yang menyebabkan adalah ulah onar Calonarang yang telah menebar penyakit gerubug di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Banyak rakyatku yang sakit dan meninggal di sana. Ia ingin menghancurkan Kerajaan Kediri, serta menghancurkan kekuasaanku. Sekarang karena kebetulan sekali Patih Madri datang ke Istana, maka aku ingin mendapatkan masukan dari engkau mengenai masalah yang menimpa desa tersebut. Bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calonarang beserta sisya-sisyanya atau murid-muridnya yang telah berbuat onar tersebut. Sebab kalau tidak ditangani segera, maka rakyat desa Kerajaan Kediri akan habis, bahkan ia akan merencanakan untuk menghancurkan Kerajaan Kediri secara keseluruhan”. Demikian kata pembukuan yang cukup panjang dari Sang Prabu kepada Ki Patih Madri.

Mendengar semua itu, merasa kaget Ki Patih Madri, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Ki Patih Madri berpikir sejenak, kemudian menjawab apa yang dikatakan Sang Prabu. “Mohon ampun Paduka, tidak patut rasanya hamba sebagai patih yang jugul punggung atau sangat bodoh memberikan masukan kehadapan Paduka. Namun atas titah Paduka, maka hamba akan mencoba untuk ikut urun pendapat mengenai masalah ini.

Namun hamba bagaikan nasikin segara atau membuang garam ke laut begitulah ibaratnya”. Lebih lanjut Ki Patih Madri menyampaikan haturnya kehadapan Sang Prabu “Kalau mendengar tingkah laku Calonarang tersebut, maka inilah yang disebut dalam sastra agama sebagai Atharwa yang artinya melakukan pembunuhan yang sangat kejam terhadap orang lain yang tidak berdosa dengan menggunakan Ilmu Hitam. Mereka telah menebar cetik atau racun niskala di wilayah desa. Ini pula digolongkan sebagai Himsa Karma yakni perbuatan membunuh makhluk lain secara sewenang-wenang. Para pelaku dari semua ini harus dihukum berat dan setimpal”. Demikian hatur Ki Patih Madri kehadapan Sang Prabu. Kemudian Ki Patih Madri menambahkan haturnya sekarang Paduka jangan terlalu bersedih dan khawatir. Hamba akan menjalankan Swadharmaning Kawula (kewajiban sebagai rakyat) bersama dengan rakyat Kediri yang lainnya. Hamba akan mengabdikan jiwa dan raga hamba untuk Kediri. Kita akan gempur Calonarang Rangda Nateng Girah, kita hancurkan antek-antek, dan kita musnahkan Calonarang”. Demikian Ki Patih Madri memompa semangat junjungannya. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri.

Raja Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calonarang Rangda Nateng Girah, dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan.

Gugurnya Ki Patih Madri

Diceritakan Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.

Waktu yang ditetapkan untuk penyerangan telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan atau sarana magis pelindung diri.

Karena kesaktian Calonarang, maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calonarang memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya atau murid-muridnya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah. Calonarang beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para jawara Kediri yang akan menggempurnya. Mereka telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker atau memagari Desa Girah dengan penyengker gaib, sehingga kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.

Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para jawara Kediri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang. Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calonarang yang dipimpin oleh Nyi Larung sehingga terjadilah pertempuran ilmu kanuragan dimalam hari yang sangat dasyat. Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlapan aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Langit di Desa Girah pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan. Memang sungguh-sungguh digjaya mereka semua. Tidak beberapa lama pertempuran di malam hari berlangsung, serangan dari para jawara Kediri dapat dipatahkan oleh ketangguhan dari ilmu yang dimiliki oleh murid-murid Calonarang, sedangkan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. Para jawara Kediri yang masih hidup berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah mengalami desakan dari pasukan leak murid-murid Calonarang, maka para jawara Kediri memutuskan untuk berbalik dan kembali ke Istana Kediri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga.

Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah Kekalahan pasukan Kediri menyebabkan pasukan leak Calonarang bergembira. Mereka semua tertawa ngakak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa. Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali suasananya pada malam hari tersebut. Mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.

Diceritakan mengenai perjalanan sisa-sisa pasukan Kediri yang kalah perang. Pada pagi hari mereka telah sampai di Istana Kediri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Demikian pula dengan Sang Prabu yang telah menunggu semalaman dengan harap-harap cemas.

Salah seorang dari pasukan Kediri menghaturkan sembah kehadapan Sang Prabu “mohon ampun Paduka, hamba permaklumkan bahwa murid-murid Calonarang benar-benar teguh atau kuat. Pasukan Kediri tidak mampu mengalahkannya dan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan dan banyak pasukan yang tewas. Hamba gagal dalam mengemban tugas yang Paduka titahkan. Atas kegagalan tersebut, hamba mohon ampun, dan siap menjalankan hukuman”. Demikian permakluman prajurit Kediri kehadapan Sang Prabu.

Raja Airlangga yang bijaksana kemudian bersabda “ Wahai prajuri Kediri yang gagah berani beserta semua pasukan, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya. Yang penting sekarang adalah aku minta engkau agar tidak surut kesetiaanmu terhadap Kediri. Teruskanlah kesetiaanmu terhadap Istana, terhadap Kerajaan Kediri. Janganlah berputus asa, karena masih ada waktu dan masih ada cara lain untuk menumpas Calonarang beserta dengan antek-anteknya. Gempur kembali Calonarang. Sang Prabu melanjutkan wejangannya. “Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan atau kewajiban dalam pertempuran. Dalam Shanti Parwa disebutkan bahwa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir muncrat akan menghapus segala dosamu. Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama”. Demikian Sang Prabu memberikan wejangan kepada Prajurit Kediri yang hampir putus asa karena kalah perang.

Mendengar wejangan tersebut, para pasukan Kediri merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon atau kekuatan tenanga dalam, sehingga semangat pasukan tumbuh kembali. Prajurit kemudian berkata “baiklah tuanku, sangat senang hamba mendegar wejangan tersebut. Sekarang hamba sadar dan yakin akan diri. Hamba akan membela mati-matian dan menyabung nyawa menghadapi Calonarang beserta dengan murid-muridnya”. Pernyataan Prajurit tersebut dibarengi oleh seluruh pasukan, dan disambut hangat oleh Raja Airlangga. “Baiklah kalau begitu, Aku sebagai Raja Kediri sangat menghargai kesetiaamu.

Buku Rahasia Ilmu Pengeleakan Calonarang

Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Raja Kediri sangat panik sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug (wabah) sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang.

Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadah di tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu.

Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik – teknik pengeleakan.

Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura–pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.

Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri.

Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu

Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.

Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.

Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari. Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.

Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.

Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

Ibu Calonarang Tewas

Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.

Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah

Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Mengetahui dirinya terdesak, Calonarang seperti biasa segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia segera berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas, melesat ke udara, dan bersembunyi di balik awan. Ketika itu, Empu Bharadah segera masuk ke dalam rumah Calonarang . Didapatinya rumah Calonarang telah kosong, tak ada siapa-siapa. Pasukan Balayuda Kediri mengurung rumah Calonarang.

Empu Bharadah kemudian berteriak : “Hai kau Calonarang pengecut, di mana gerangan engkau bersembunyi. Sudah berwujud apa engkau sekarang, aku akan hadapi. Aku menantangmu, ayolah segera tunjukkan batang hidungmu”. Setelah berkata demikian, tiba-tiba ada jawaban dari angkasa. Rupanya Calonarang sudah bersembunyi dari tadi, tanpa sepengetahuan pasukan Kediri. Calonarang berkata : “Hai kau Empu Bharadah, dimana bersembunyi rajamu. Mendengar ejekan si garuda tersebut dari udara membuat Empu Bharadah menjadi naik darah. Segera Empu Bharadah memerintahkan kepada Ki Kebo Wirang untuk membidikan senjata tersebut ke arah si Garuda Calonarang. Namun ketika itu, Ki Kebo Wirang menjadi kebingungan karena musuh yang akan dibidik tidak kelihatan. Hanya suaranya saja yang berkoar-koar. Ditambah lagi dengan adanya kilat dan guntur yang menggelegar di angkasa. Semakin menyulitkan untuk membidik si Garuda Calonarang.

Menghadapi situasi demikian, Empu Bharadah mencoba untuk memikirkan sebuah daya upaya. Empu Bharadah kemudian memerintahkan kepada Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya. Ki Lembu Tal mencoba untuk mencari tempat yang agak terbuka. Mereka menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang. Ki Lembu Tal mengejek si garuda : “Hai engkau Calonarang, kenapa engkau bersembunyi. Ayo turun, akan aku potong lehermu, akan aku cincang engkau, bila perlu aku jadikan burung garuda panggang. Hai kau Calonarang, kalau memang engkau sakti mengapa engkau bersembunyi di tempat yang tinggi begitu. Kalau engkau mau, kau boleh hisap pantatku”. Demikian ejekan Ki Lembu Tal yang tidak senonoh, sambil membuka kainnya dan memperlihatkan pantatnya ke arah datangnya suara Calonarang.

Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calonarang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya. Si garuda Calonarang dengan secepat kilat terbang dan menyambar Ki Lembu Tal. Pada saat si garuda terbang menyambar Ki Lembu Tal, ketika itu pula Empu Bharadah membidikkan senjata pusaka Jaga Satru dan menembakkannya ke arah sang garuda. Si garuda jelmaan Calonarang tersebut terkena tembakan senjata Jaga Satru dan jatuh tersungkur ke tanah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang. Ratu Leak Calonarang yang sakti mandraguna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Semua pasukan Balayuda Kediri segera mendekati Calonarang yang tidak berdaya dan kemudian Calonarang menghembuskan nafas terakhir di Setra Ganda Mayu.

Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.

Calonarang Rangda Nateng Girah yang mewariskan Ilmu Pengeleakan Aji Wegig sampai sekarang masih berkembang di Bali, karena masih ada generasi penerusnya sebagai pewaris pelestarian budaya di Bali.

from Paris Sweet Home

How to Write a Resume

How to Write a Resume

Guide Note:This page provides advice and tips on writing resumes. A clean, concise, easy-to-read resume can greatly increase your chances of landing a job interview.

Table of Contents:

Step 1: Before You Write Your Resume

A great resume can help you get a job interview (Photo by Penny Mathews)

A great resume can help you get a job interview (Photo by Penny Mathews)

  1. A resume provides an overview of your experience and skills. As such, it is an important tool in any job search.
  2. A resume cannot guarantee you a job offer, but a great resume will help you get an interview. So spending the time to make your resume as good as it can be is a worthwhile investment!
  3. Before you begin constructing a resume, take the time to think about your experience and what type of job you’re looking for.
    • If you’re re-entering the workforce, you may pick a different format than someone who’s been working continuously.
    • A recent college graduate will focus more on educational background than an experienced worker.
    • If you’re changing careers, you may opt for a different format than someone who is remaining in his current field.
  4. Take a look at some sample resumes online. Boston College, the Wall Street Journal, Vault.com and the University of Florida have some good examples.

Do Research in Your Industry

  1. The type of job you’re applying for will also influence the type of resume you write.
  2. If there’s a style of resume often used in your desired field, consider using it yourself.
  3. Look at sample resumes from other people in your industry. Is there a section or format they’re using? You might want to include it too!

Step 2: Use these Resume Writing Tips

Be honest as you write your resume (Photo by Steve Woods)

Be honest as you write your resume (Photo by Steve Woods)

  • Here are a few tips to keep in mind as you write or update your resume:
  1. Be honest.
    • It is better to address any gaps in employment than to try to hide them.
    • Lying on your resume may get you into an interview, but you still have to go through a background and references check to land the job.
    • If you state you can perform a task or operate a program you actually don’t know, your lie will be exposed.
  2. Write out everything you want to include on your resume. You can trim it down to one page later.
    • Note: If you have over 10 years of work experience that is important and needs to be included, a resume of two pages is acceptable.
  3. Employers often scan or upload resumes into electronic databases. For this reason, simpler formatting is the better route to take:
    • Try to avoid using tables.
    • Use spaces instead of tabs to separate sections.
    • Also avoid italics, underlining and shadowed text.
  4. On that note, perfumed paper, curlicue fonts, and pretty images are all no-nos. You want your resume to stand out, but not for these reasons!
  5. Use easy-to-read fonts and a clear design to make your resume more appealing.

Step 3: Write Your Resume Objective Statement

OWL Sample Objective Statements
OWL at Purdue University Sample Objective Statements
  1. An objective statement is the first thing listed after your personal information.
  2. The objective statement is a sentence or two that sums up your current career goals.
  3. An objective statement is not always a resume necessity, but it can be a handy summary of what you’re looking for in a position.
  4. If you’re starting your resume from scratch, write your objective statement first. This can help you decide what information to highlight on your resume, even if you ultimately decide not to include an objective statement.
  5. Do not write a generic objective statement; it is more likely to turn off a prospective employer.
    • Example: My goal is to get a rewarding job that pays well.
  6. Your objective statement should relate to the job you are applying for.
    • Example: An experienced public relations consultant, I now seek a position as an account manager where I can utilize my management skills.
  7. Target this statement to the position you’re interested in. This is the first information on the page after your name and address, and it should make the case for you being the perfect person for the job!

Step 4: Choose a Resume Style

Consider your experience and desired job when choosing a resume style (Photo by Chris Chidsey)

Consider your experience and desired job when choosing a resume style (Photo by Chris Chidsey)

  1. There are several types of resumes:
  2. You want to think about your situation and create the best resume for your experience and desired job.
  3. Keep in mind that most recruiters want your resume to show your career progression. Therefore, use a chronological or combination resume unless you are in an exceptional situation. If you have no work history or have worked multiple jobs over a short period of time an unconventional format may show you in a better light.
  4. Most resumes should fit on one page. However, if the information is truly important and necessary, two pages is acceptable.
    • If you have less than 10 years’ work experience, you should only need a one page resume.
    • It is better to go onto a second page than to leave out important information, such as if you are creating an academic CV and want to include your published works.
    • Do not go onto a second page for unimportant information, like personal hobbies, out-of-date skills and achievements from over 10 years ago.
  5. Pick the the type of resume that is best suited to you and your goals.
    • If you’re unsure what type that is, try writing your resume in two or more formats, then ask for feedback from friends or relatives. An objective eye may tell you which format is best for you!

Chronological Resumes

About.com's Sample Chronological Resume
About.com’s Sample Chronological Resume, top section
  1. This is the most common type of resume.
  2. It lists your work and educational history chronologically.
  3. The general layout is as follows:
    • Header with personal information (Name, Address, Phone numbers, Email).
    • Objective statement (if included).
    • Career and skills summary (if included).
    • Reverse chronological career listings (include employer names and locations).
    • Educational background (School name, location and your GPA).
      • (Recent graduates may place education ahead of their career listings).
  4. List what you achieved in different positions, not what your job responsibilities were.
  5. Quantify your on the job accomplishments.
    • Instead of writing that you improved customer relations, state that customer satisfaction increased 40% while you were in charge.
    • Explain the size of the company you worked for, the number of people you supervised, and the size of any budgets you managed.
  6. Condense unimportant information. There is no need to list every job you’ve had since college. You can include a quick summary of those early positions in a section labeled “early career.”
    • If you were recognized or honored for work you accomplished, by all means include that- if it is relevant to the job you’re applying for now!
  7. If you’ve been in the workforce for several years, your educational background becomes less important. Trimming this section to the basics will leave more room for other information.

Skills Resumes

OWL at Purdue University Sample Skills Resume
OWL at Purdue University Sample Skills Resume, skills section
  1. Skills resumes allow you to group your work history by skills, not by dates or places of employment.
  2. This kind of resume lets you highlight the skills you think are most important; your resume can lead with the most relevant experience you have instead of the most recent.
  3. This resume style can be particularly useful for someone who is re-entering the workforce, or entering the workforce for the first time, and does not have recent work experience.
  4. It is also well-suited if you are making a big career change, as you can list skills relevant to the job you’re applying for.
  5. Write a clear objective statement; this can explain how your skills relate to the job you now seek.
  6. Also make sure to include a career summary; this can explain why you are changing careers or re-entering the workforce.
  7. The general layout is as follows:
    • Header with personal information (Name, Address, Phone numbers, Email).
    • Objective statement.
    • Career summary.
    • Skills groupings.
    • List of places of employment (include employer names, locations, and dates of employment).
    • Educational background (School name, location and your GPA).
      • (Recent graduates may place education ahead of their skill groupings).

Functional Resumes

About.com's Sample Functional Resume
About.com’s Sample Functional Resume, top section
  1. A functional resume is very close in style to a skill-based resume, and can also be helpful for recent graduates or people re-entering the workplace.
  2. If you’ve held many jobs over a short period, a functional resume can help you avoid being pegged as a job-hopper.
  3. More and more people work in temporary and contract positions these days; a functional resume is another way to highlight the skills you used in these positions.
  4. This style lets you demonstrate how your previous work or educational experience has provided you with the appropriate background for the job you’re applying for.
  5. You do not need to list your jobs in chronological order; instead, put the most relevant one(s) first.
  6. You also do not need to list every job you have had in the career listing section; simply include the ones that are relevant.
  7. If you’re applying for your first job, by all means include related internships and educational awards- if they truly relate to the job you’re applying for!
  8. Include an objective statement, as it can tie the disparate resume elements together.
  9. The general layout is as follows:
    • Header with personal information (Name, Address, Phone numbers, Email).
    • Objective statement.
    • Career and skills summary.
    • Career listings, by relevancy to desired position.
    • Employment history (List all employers here, with dates of employment).
    • Educational background (School name, location and your GPA).
      • (Recent graduates may place education ahead of their career listings).

Combination Resumes

  1. A combination resume mixes the chronological, functional and skills formats.
  2. It’s another format used by career-changers and those new to the job market, as you can show why you fulfill the needs of the new position.
  3. It can also be used by older workers, as this format lets you highlight your strongest credentials.
  4. The same holds true for people with employments gaps; this style lets you focus on what you have achieved, not on times when you were not working.
  5. Make sure to write an objective statement for this format as well.
  6. The general layout is as follows:
    • Header with personal information (Name, Address, Phone numbers, Email).
    • Objective statement.
    • Career summary (if included).
    • Skills summary.
    • Reverse chronological career listing; with a focus on skills relevant to the job you’re applying for.
    • Educational background (School name, location and your GPA).
      • (Recent graduates may place education ahead of their skills summary).

Video Resumes

The well-known video resume “Impossible is Nothing”
  1. Job listing sites like Jobster and Vault.com let applicants post video resumes online.
  2. Video resumes are becoming more popular, but some HR departments are reluctant to accept them, not wanting to be accused of bias. Make sure you can use your video resume before making one!
  3. Just like paper resumes, a tailored resume is best here. You want this resume to explain why you’re qualified to work in a specific position or industry. An elaborate but unrelated production will not be appreciated.
  4. To make your video resume:
    • Dress as if for a job interview.
    • Speak clearly.
    • Do not make distracting motions.
  5. Begin with your first and last name. You can mention more detailed contact information, but be cautious if the video will appear on a public site.
  6. Then list your educational background.
  7. Next discuss your qualifications, either work-related or educational, for the position (or for the industry) you’re applying for.
  8. You can mention any special skills you have, if they relate to the job you’re applying for.
  9. End by re-stating your name and thank the watcher for her time.
  • Here’s an example of what not to do in your video resume:
Video Resume Parody: Impossible is the Opposite of Possible

Step 5: Tailor Your Resume

  1. It is more and more common to have a resume tailored to each position you are applying for, instead of using a “one size fits all” model.
  2. Your resume should highlight why you are qualified for the position you’re applying for.
  3. Remove extraneous information. Do not detail every job experience you have had if it does not relate to the job you’re pursuing.
  4. Remember, you want your resume to be only one page (two if you have enough business experience that the extra information is important and relevant)!
  5. Applying to multiple industries and you want to list varied skills? Write different versions of your resume for each type of job. Just be careful not to send the wrong version out for a job, or you may pre-emptively disqualify yourself for that position!

Step 6: Polish Your Resume

  • Now that you’ve chosen a style and entered your information, it’s time to polish your resume!

What Not to Have on Your Resume

  1. Always check for typos and grammatical errors. Then check again. Then have a friend proofread for you. These types of mistakes are easy to fix, and make a big difference in whether or not an employer will consider you for a job!
  2. Do not use “I” or “me”; the reader already knows the resume is about your accomplishments.
  3. In listing your education, only include college and graduate school. The fact that you won a spelling bee in first grade, though commendable, will not help you land a job interview!
  4. Remove out-of-date terms and technology. Being able to change typewriter ribbons is not a hot skill today.
  5. Unless specifically requested to do so by the job posting, do not include references on a resume. You can provide these later in the interview process.

Resume Keywords

  1. With online resume databases and thousands of resumes pouring in via email, many HR departments now perform keyword searches to weed through these submissions.
  2. This means you need to make sure your resume includes relevant keywords to the industry you’re in or it may be overlooked.
  3. First, make sure you include the keywords from the job listing you’re applying to!
  4. To find other appropriate keywords, study job postings for your field. Chances are the keywords you see cropping up in these ads are also what employers search for.
  5. Other sources for industry keywords:
    • Employer websites
    • Industry-affiliated websites
    • Messageboards and forums about your career sector
    • Government job descriptions like Occupational Outlook Handbook
  6. Only list keywords that apply to you.
  7. Only use words for skills you actually have.
  8. Do not load your resume with multiple keywords saying the same thing; it may help you make it through a database search, but when a human sees the keyword-loaded resume she will immediately put it in the garbage.

Resume Action Words

  1. Now examine the words you used to describe yourself and your job. Do you sound like a dynamic worker any company would be thrilled to have, or like a ho-hum employee?
  2. Action verbs like “built” and “led” are better than passive terms like “worked with” and “helped.”
  3. For more verb ideas, check out Boston College’s list of action verbs.
  4. Make your resume special by having it really describe who you are. Instead of generic resume words that are overused to the point of meaninglessness, use words and descriptions that are concise, easy-to-read and relate to who you are, what you’ve accomplished, and what you aspire to for the future. You want your resume to reflect the real you!

Resume Writing Services

  1. The online site Emurse offers an online resume-building template. After registering (for free), you can input your personal information and the site will use a template to create a resume.
  2. Microsoft Word has resume templates and a resume writing wizard you can use. You can also find more resume templates online.
    • Be careful using these, as the formatting may make it difficult for companies to electronically scan your resume.
  3. Check out books about writing resumes, like Resumes for Dummies and The Elements of Resume Style
  4. Professional resume writing services can be useful if you’re stuck on what to do. Check out these professional resume writers’ groups to find help.

Articles about How to Write a Resume

Filosofi Leak Ngendih di Bali

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali.
Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti?
Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat.
Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri.

Filosofi Leak Ngendih di Bali Tidak gampang mempelajari ilmu leak.
Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak.
Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.
Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.

Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.
Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya.
Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar.
Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia.

Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari.
Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya.
Namun esensinya sama dalam penerapan.
Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti.

Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.
Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak.

Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak.
Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis.
Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam.
Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.

Mengapa ditempat angker?
Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi.
Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya.
Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.
Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara.
Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak.
Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri.

Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya.
Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai).
Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.

Filosofi Leak Ngendih di Bali Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya.
Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam.

Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam.
Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.

Ilmu leak tidak menyakiti.
Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas.
Bersikap sewajarnya saja.
Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan.
Endih ini tidak menyebabkan panas.

Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda.
Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.

Leak Shoping di Kuburan

Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak.
Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).

Filosofi Leak Ngendih di Bali Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
– Si adalah mencerminkan Tuhan
– Wa adalah anugrah
– Ya adalah jiwa
– Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
– Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura).

Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.

Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.

Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut.

Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak.
Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih.

Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu)
Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya.
Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.

Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan).
Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.
Begini bunyi doa leak memberikan berkat : “ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”.

Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu.
Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.

Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian?
Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit.
Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra.
Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa.
Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.
Di Jawa tradisi ini disebut tirakat.

Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak.
Leak barak (brahma).
Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah.
Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.

Filosofi Leak Ngendih di Bali Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil.

Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan.
Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.
Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang.
Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam.
Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.
Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri).

Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri.
Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab.
Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla.

Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

Bali Budaya


Technorati : , ,

Manfaat Jeruk Bali

Jeruk Bali, Kikis Kolesterol, Lindungi Jantung

Jeruk bali bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan pektinnya lebih banyak dibandingkan dengan jeruk jenis lain. Pektin inilah yang dipercaya mampu menurunkan kolesterol sekaligus mengurangi risiko sakit jantung.

Hampir semua orang kenal jeruk bali. Rasa dan bentuknya khas. Kulitnya sering dimanfaatkan anak-anak di pedesaan sebagai bahan baku mobil-mobilan.

Daging buahnya yang segar dan banyak mengandung air, bisa langsung dimakan setelah dikupas atau sebagai campuran salad maupun rujak.

Buahnya yang berwarna putih dapat dijadikan manisan setelah dibuang bagian kulit luarnya yang banyak mengandung kelenjar minyak. Di Vietnam, bunganya yang harum digunakan untuk membuat parfum. Bukan hanya itu, kayunya juga sering dimanfaatkan untuk gagang perkakas alat dapur.

Jeruk bali bermanfaat menurunkan kolesterol dan melawan penyakit jantung. Kenyataan tersebut diungkapkan peneliti asal Israel seperti yang dirilis di berbagai situs kesehatan dunia.

Penelitian tersebut melibatkan 57 orang dengan kadar kolesterol tinggi dan baru menjalani operasi bypass pembuluh darah koroner. Kandungan lemak yang sangat tinggi menyebabkan tubuh pasien kebal terhadap obat-obatan yang biasa dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol.

Pasien-pasien tersebut kemudian dibedakan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diberi hidangan jeruk bali dengan daging buah berwarna merah selama 30 hari berturut-turut. Kelompok kedua diberi jeruk bali warna putih. Kelompok terakhir tidak diberi jeruk bali sama sekali.

Hasilnya, pasien kelompok pertama dan kedua sama-sama mengalami penurunan lemak darah, sedangkan pasien di kelompok terakhir tidak mengalami perubahan apa pun. Diketahui pula bahwa jeruk bali merah diyakini lebih efektif menurunkan kadar lemak, khususnya trigliserida.

Kandungan likopen jeruk bali berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut para peneliti, daging buah segar maupun jusnya memiliki manfaat yang sama. Temuan-temuan ini dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry.

Antibakteri

Para ahli dari Universitas Jagiellonian, Polandia, menemukan, ekstrak jeruk bali mengandung antibakteri dan antioksidan yang bisa “menenangkan” sistem getah perut untuk membantu proses penyembuhan. Dr. Thomas Brzozowski, ketua penelitian, menyarankan agar para penderita tukak lambung memasukkan jeruk ke dalam diet mereka meski secara alamiah mengandung asam.

Selama ini penderita luka lambung diminta tidak memasukkan jeruk ke dalam diet mereka, tetapi penelitian ini justru menyarankan sebaliknya. Ekstraknya diyakini bisa mengurangi kadar enzim COX-1 dan COX-2 yang ada dalam obat-obatan.

Kondisi ini memainkan peran utama dalam upaya penybuhan lambung. Para peneliti yakin ekstrak jeruk bali mampu menyatu dengan kedua enzim itu dalam proses penyembuhah lambung.

Tak hanya bermanfaat menjaga kesehatan jantung dan lambung, jeruk bali juga baik untuk kesehatan gusi karena kadar vitamin C-nya tinggi. Hal ini diungkapkan Peneliti di Universitas Friedrich Schiller, Jerman, yang menemukan kaitan kesehatan gusi pada mereka yang banyak mengonsumsi jeruk bali.

Penelitian melibatkan 58 responden yang mengalami kerusakan gusi yang cukup parah. Kenyataannya, jeruk bali membawa dampak positif setelah dikonsumsi setiap hari selama sekitar dua minggu. Bahkan, dampak positif itu juga berlaku bagi perokok maupun bukan perokok. Seperti diketahui merokok adalah salah satu penyebab utama kerusakan gusi.

Manfaat lain jeruk bali, yakni membersihkan sel darah merah yang telah tua didalam tubuh dan menormalkan hematokrit (persentase sel darah per volume darah). Sekaligus sebagai sumber antioksidan penangkal kanker.

Jus Paling Favorit

Selain dikonsumsi segar, jeruk bali sering diolah dalam bentuk jus. Saat membuat jus, Anda dapat mencampur jeruk bali dengan bahan atau buah lainnya, sehingga rasanya jadi lebih nikmat.

Berikut contoh meramu jeruk bali yang balk untuk kesehatan:

Sumber vitamin C dan penurun kolesterol
Konsumsi dua “siung” (helai dalam buah) jeruk bali ukuran sedang setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya secara maksimal.

Minuman antioksidan dan antikanker
Ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya. Masukkan ke dalam blender, tambahkan air secukupnya. Dapat juga ditambahkan satu sedok madu dan buah lainnya seperti mangga atau pir.

Cara lain, ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya, dan 1 cm jahe kupas. Masukkan seluruh bahan tersebut ke blender dengan ditambah sedikit air.

Manisan
Potong-potong daging kulit jeruk bali (kulit luarnya dibuang) berbentuk juring, rebus dengan api kecil selama 60 menit. Buang air rebusannya, tiriskan, lalu timbang. Siapkan gula pasir sama beratnya dengan berat kulit jeruk yang telah direbus.

Taruh kulit jeruk rebus dalam panci, bubuhi air hingga terendam seluruhnya, tambahkan gula pasir. Rebus di atas api kecil sambil sesekali diaduk sampai menjadi sirop pekat. Angkat, biarkan kulit jeruk tetap terendam dalam sirop semalaman.

Esoknya, masak lagi di atas api kecil hingga sirop gula hampir habis. Keluarkan kulit jeruk dari sirop, hamparkan di atas nyiru, jemur hingga setengah kering. Potong-potong kecil panjang, masukkan ke dalam wadah tertutup. Agar tahan lama (1 bulan), simpan dalam lemari es.

Selain disantap sebagai kudapan, manisan kulit, jeruk bali bisa dicampurkan ke dalam adonan cake, terutama untuk menggantikan manisan sukade atau kulit jeruk parut. Manisan kulit jeruk yang dicampur manisan kering buah-buahan akan memperkaya cita rasa fruitcake.

Campuran salad buah
Siapkan 200 gram pepaya, 200 gram apel, 200 gram nanas, 200 gram melon (semuanya dipotong dadu), dan jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas, dibuang isinya, dan dipotong-potong sesuai selera. Tambahkan stroberi dan kiwi untuk hiasan.

Siapkan juga bahan dressing, campuran alpukat yang telah diblender halus dengan mayones. Tambahkan empat sendok madu, kocok dengan mikser sampai rata, beri air secukupnya, lalu aduk rata. Bahan buah segar diatur dalam mangkuk atau piring, kemudian disiram dengan dressing.

Kandungan Jeruk Bali

Likopen
Kandungan likopen pada jeruk bali cukup tinggi, yaitu 350 mikrogram per 100 gram daging buah. Jika bersinergi dengan betakaroten (provitamin A) yang banyak terdapat pada jeruk bali, likopen bisa berperan sebagai antioksidan.

Pektin
Jeruk bali mengandung pektin jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis jeruk lainnya setelah dijus. Satu porsi jus jeruk bali mengandung lebih dari 3,9 persen pektin. Setiap 15 gram pektin dapat menurunkan 10 persen tingkat kolesterol. Berarti jeruk bali dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

Zat aktif pembersih darah
Jeruk bali dipercaya mengandung zat aktif yang dapat membersihkan sel darah merah yang telah tua di dalam tubuh dan menormalkan hematokrit, yaitu persentase sel darah per volume darah. Tingkat hematokrit normal pada wanita adalah 37-47 persen, sedangkan laki-laki 40-54 persen. Rendahnya hematokrit akan menyebabkan anemia, tetapi jika sangat tinggi dapat memicu penyakit jantung karena darah jadi mengental.

Kalium
Jeruk bali (gravefruit) merupakan sumber kalium, vitamin A (440 IU), bioflavonoid, dan likopen (350 ug/100g). Hasil penelitian, jeruk bali termasuk antikanker yang sekaligus menyehatkan prostat.

Vitamin C
Seperti jeruk lain, jeruk bali adalah sumber vitamin C (350 mikrogram per 100 gram daging jeruk). Vitamin C sangat baik sebagai sumber antioksidan.

Perokok dianjurkan untuk mengosumsi jeruk bali dua “siung” (helai dalam buah) setiap hari. Penigkatan kadar vitamin C di dalam darah mampu memperbaiki jaringan yang rusak, bahkan kanker, akibat tidak stabilnya molekul radikal bebas karena rokok dan polusi udara.

Sumber: Senior

Right Brain VS Left Brain

 Here the Result Test

Thank you for taking the Creativity Test. The results show your brain dominance as being:
Left Brain 47% | Right Brain53%

You are more right-brained than left-brained. The right side of your brain controls the left side of your body. In addition to being known as right-brained, you are also known as a creative thinker who uses feeling and intuition to gather information. You retain this information through the use of images and patterns. You are able to visualize the “whole” picture first, and then work backwards to put the pieces together to create the “whole” picture. Your thought process can appear quite illogical and meandering. The problem-solving techniques that you use involve free association, which is often very innovative and creative. The routes taken to arrive at your conclusions are completely opposite to what a left-brained person would be accustomed. You probably find it easy to express yourself using art, dance, or music. Some occupations usually held by a right-brained person are forest ranger, athlete, beautician, actor/actress, craftsman, and artist.

Your complete evaluation follows below: Upcoming Events

Attending one of our school events is a fantastic way to get a feel for the school and have many of your questions answered.

View all upcoming events
Register now

Speak to an Admissions
Representative

Find out in one hour:
» The type of designer you want to be
» The program that best matches
your interests
» How to apply for admission
» About all your finance options
» The entry-level positions that exist in
your field of study

Set an Appointment

Your left brain/right brain percentage was calculated by combining the individual scores of each half’s sub-categories. They are as follows:

Your Left Brain Percentages 48% Linear (Your most dominant characteristic)
42% Symbolic
38% Logical
22% Sequential
14% Verbal
14% Reality-based (Your least dominant characteristic)

Your Right Brain Percentages 48% Intuitive (Your most dominant characteristic)
39% Random
32% Fantasy-oriented
30% Holistic
28% Concrete
19% Nonverbal (Your least dominant characteristic)

What Do These Percentages Mean?

Low percentages are common in the Brain Type Test and are not indicative of intelligence. Instead, medium to high scores (30 – 50%) are desireable, as they show an ability to utilize a processing method without an abnormal reliance on it. Special focus should be paid to highly dominant (50% or above) or highly recessive (0 – 30%) methods, as they tend to limit your approach when learning, memorizing, or solving problems.

If you have Highly Dominant characteristics, your normal thinking patterns will naturally utilize these methods. Conscious effort is required to recognize the benefits of other techniques. Using multiple forms of information processing is the best way to fully understand complex issues and become a balanced thinker.

If you have Highly Recessive characteristics, your normal thinking patterns naturally ignore these methods. You may only consider these under-utilized techniques when “all else fails,” or possibly not at all. It is important to recognize the benefits of all of your brain’s capabilities in order to become a balanced thinker.

Left Brain Categories

Linear Processing

Linear processing is a method by the left hemisphere to process information. In this process, the left brain takes pieces of information, lines them up, and proceeds to arrange them into an order from which it may draw a conclusion. The information is processed from parts to a whole in a straight, forward, and logical progression.

Your Linear Analysis

When processing information using this method, you will occasionally feel the need to see the “whole picture” before you are able to achieve results. At other times, you are able to piece all of the parts together in a straight and logical progression to form a whole, which then enables you to understand what you have processing. The information, your mood, and your level of comfortable are all factors that determine your response to a linear processing problem.

Symbolic Processing

Symbolic processing is a method associated with the left hemisphere that is used for processing the information of pictures and symbols. The majority of functions associated with academics involve symbols such as letters, words, and mathematical notations. This process is what aids you to excel in tasks such as linguistics, mathematics, and memorizing vocabulary words and mathematical formulas.

Your Symbolic Analysis

You have the ability to process the information of symbols at times, but you may need to first view the real object before you can understand what you are trying to process. For example, in solving math problems it occasionally helps you to “draw out” the problem, which allows you to better understand it through visualization. At other times you do not need visualization to aid you in forming your answers.

Logical Processing

Logical processing is a method that is used by the left hemisphere to take information piece by piece and put it all together to form a logical answer. When information is received through reading or listening, the left hemisphere will look for different bits of information that will allow it to produce a logical conclusion. This aspect of the left hemisphere is what aids you in solving math problems and science experiments.

Your Logical Analysis

When processing information using this method, you may consider the information before you and produce a logical answer, or you may tend to go with your gut. You may discover that you can “guess” your way through S.A.T. questions about as accurately as you can deduce them. It is important that you nurture your ability to use logic whenever it is needed, but do not neglect other methods of processing information if you hit a logical roadblock.

Sequential Processing

Sequential processing is a method used by the left hemisphere for processing information. The information that is received is processed in order from first to last. Information is processed in a systematic, logical manner. Through sequential processing, you can interpret and produce symbolic information such as language, mathematics, abstraction, and reasoning. This process is used to store memory in a language format. Activities that require sequential processing include spelling, making a “to-do” list, and many aspects of organization.

Your Sequential Analysis

You tend process information you receive without any priority as to which is processed first, last, or any place in between. It is difficult for you to learn or perform tasks involving sequence. For example, spelling is a task that involves sequence and you may experience problems remembering exact spelling or any type of rote memorization, for that matter. Creating daily lists and plans are probably not activities you enjoy. If you are having problems with tasks involving sequence, there are methods you can use to improve your skills. One method involves using colors to learn sequence. You assign a color to each task. For example, you may want to make the first step green, the second step blue, and the last step red. This helps because the right side of the brain, your dominant side in this case, is sensitive to colors. The important thing to remember is that consistently using the same sequence will help you both improve and recognize that this strategy can be used in many different circumstances involving sequence.

Verbal Processing

Verbal processing is a method used by the left hemisphere to process our thoughts and ideas with words. For example, through verbal processing, a left-brained person giving directions may say, “From this point continue east for two miles and turn north onto Bellevue Road. Continue north on Bellevue Road for seven miles and turn west on Main Street”. With verbal processing, exact, logical directions are given in a very sequential manner compared to a right-brained person who, in giving the same directions, would use more visual landmarks.

Your Verbal Analysis

You are not a verbal person. When you process your thoughts, you tend to use very few words, preferring instead to illustrate a problem or solution. You often find yourself in situations where it is hard for you to “find the right words.” Upon reading or hearing new information, you must first create a “mental video” before you can process and understand the information of your thoughts. For example, when giving directions, you probably use many gestures with your hands such as pointing and leaning, and also refer to visual structures such as “a McDonalds” or “the big tree” instead of street names or exact mileage.

Reality-based Processing

Reality-based processing is used by the left hemisphere as a method for processing information with a basis on reality. This processing tool focuses on rules and regulations. An example of this would be how a left-brained person would completely understand the repercussions of turning in a late assignment or failing a test. A left-brained person also usually easily adjusts to changes in their environment.

Your Reality-based Analysis

The information you process may lack a basis on reality, but it does open the door to creativity. You do not show much focus for rules and regulations and do not adjust well to change in the environment. In fact, upon experiencing change in the environment, it spurs you to try to change it yourself instead of adjusting to it. Whenever you become emotionally involved in project you are more likely to learn and succeed.

Right Brain Categories

Intuitive Processing

Intuitive processing is a method that is used by the right hemisphere to process information based on if it “feels” right or not. For example, a right-brained person may choose an answer on a test because they had a “gut” feeling and often they will be correct. Another example of this is how a right-brained person will know the correct answer to a math problem but will not understand the procedure of how they arrived at the correct answer. A right-brained person will usually have to start with the answer and work their way backwards in order to be able to see and understand the parts and process that create the whole.

Your Intuitive Analysis

When processing information, at times you are able to go with your “gut” instincts. At other times you may doubt your instincts, or prefer to put information together piece by piece to form your conclusion. You should be careful not to ignore your intuition, but at the same time do not solely rely on it.

Random Processing

Random processing is a method used by the right hemisphere for processing information. The information that is received is processed without priority. A right-brained person will usually jump from one task to another due to the random processing by their dominant right hemisphere. Random processing is, of course, the opposite of sequential processing therefore making it difficult for right-brained individuals to choose to learn in sequence. In order to overcome this, a right-brained person may want to attempt to learn sequence by using colors since the right hemisphere is sensitive to color. For example, you may want to associate the first step with green, the second step with blue, and the last step with red. Consistently using the same sequence will allow you to see that this strategy can be applied to many tasks involving sequence.

Your Random Analysis

You have some ability to process data randomly. You are at times able to make “leaps of logic” and discover unique things by thinking “outside of the box.” However, you may tend to ignore your random processing thoughts unless you are desperate for a solution. It is important you recognize this skill as not grasping at straws, but a viable way to discover new ways of approaching a problem.

Fantasy-oriented Processing

Fantasy-oriented processing is used by the right hemisphere as a method for processing information with creativity. It focuses much less on rules and regulations than the processing method of a left-brained person. Due to the fantasy-oriented processing mechanism of a right-brained person, they do not adjust well to change. Instead of adapting to the change in the environment, a right-brained person attempts to change it back to the way they liked it. But fantasy-oriented processing also provides the advantage of creativity to right-brained individuals, and since emotion is integral of the right side of the brain, anything a fantasy-oriented person becomes involved in emotionally will aid their ability to learn.

Your Fantasy-oriented Analysis

You have the ability to use both creativity and reality to process the information you receive. This is a unique gift that allows you to both focus on rules and regulations but to also act with creativity. You are able to adjusting to change, even though you might not like it, and you can become emotionally involved in your work if it interests you.

Holistic Processing

Holistic processing is a method used by the right hemisphere to process information. The information is processed from whole to parts. A right-brained person, through holistic processing, is able to see the big picture first, but not the details that accompany it. A strongly holistic person may often find that prior to listening to a lecture given by an instructor, they must first read the chapter so that they better understand what the lecture is about. This function is also what provides to you your visual spatial skills. It also aids in tasks such as dancing and gymnastics. Through holistic processing, memory is stored in auditory, visual, and spatial modalities.

Your Holistic Analysis

You show some ability to process data holistically, starting with the whole and working backwards to find the parts, which inform the whole, to form your conclusion. When you process information in a linear manner you are able to start with the parts and work up to form the whole. It is important to be comfortable with both methods, as both are equally necessary in the learning process.

Concrete Processing

Concrete processing is a method associated with the right hemisphere that is used for processing things that can be seen or touched. It processes much of the information you receive from real objects. For example, a right-brained person is not just satisfied that a mathematical formula may work, but will want to know why it works. A strongly concrete person often finds it easier to solve a mathematical problem by “drawing it out” because it allows them to visualize it. The more a concrete person can visualize something the easier it is for them to understand it.

Your Concrete Analysis

At times, you feel the need to see a real object in order to understand it. At other times, you are able to understand a problem on a symbolic level. For example, you may find that in solving math problems, it occasionally helps you to “draw out” the problem in order to understand and solve it.

Nonverbal Processing

Nonverbal processing is a method used by the right hemisphere to process our thoughts with illustrations. Reliance on this method is why it is occasionally difficult for right-brained people to “find the right words” in certain situations. A right-brained person cannot just read or hear information and process it, but first must make a mental video to better understand the information they have received. For example, through nonverbal processing, a person giving directions may say, “Continue going straight until you see a big, red-brick courthouse. At the courthouse turn right, and go down that street for a couple of miles until you se a gray stone church which will be on your right. Straight across from the church is the road to the left you need to take.” With nonverbal processing, the directions that are given are extremely visual compared to the exact, sequential directions that would be given by a left-brained person.

Your Nonverbal Analysis

You have little ability in nonverbal processing. When you process your thoughts and ideas you mainly use words instead of illustrations. For example, if you were giving directions you may say, “Continue traveling west for 3 miles and turn north at the intersection.” You would give exact, logical directions in a very sequential manner.

Leak di Bali

Mengutip dari HDnet.
LEAK

Kata leak sudah mendarah daging di benak masyarakat hindu di Bali atau
asal Bali yang tinggal di perantauan sebab kata-kata ini sangat sering
kita dengar dan membuat bulu kuduk merinding atau hanya sekedar ga
berani keluar malam gara-gara kata "leak" ini. Begitu juga keributan
sering terjadi antar tetangga gara-gara seorang nenek di sebelah rumah
di tuduh bisa ngeleak…ironisnya lagi yang menyebut si A atau B bisa
ngeleak adalah sekelas balian sonteng, dan sebangsanya. Bahkan bayi
menangis tengah malam, yang mungkin kedinginan atau perut kembung yang
tidak di ketahui oleh ibunya, juga tuduhannya pasti "amah leak"
apalagi kalau yang bilang balian sakti, wah…pasti tokcer..
Sedemikian parahkah, atau sangat saktikah leak tersebut, dan kalau
saya tanya kepada pembaca semua pernahkah melihat leak, atau paling
tidak mayat leak…paling yang ada mayat manusia… Apakah hal itu tidak
lebih sebuah anggapan yang perlu di telusuri kebenarannya, sebab arti
kata leak itu sendiripun kita jarang yang tahu… Asumsi kita tentang
leak paling-paling rambut putih dan panjang, gigi bertaring, mata
melotot, dan identik dengan wajah seram.. Hal inilah yang membuat kita
semakin tajam mengkritik leak dengan segala sumpah serapah, atau hanya
sekedar berpaling muka bila ketemu dengan orang yang bisa ngeleak…
Pada dasarnya ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk
mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang
disebut dengan leak, yang ada adalah " LIYA, AK yang berarti lina
aksara ( memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh
melalui tata cara tertentu). Kekuatan aksara ini disebut panca gni
aksara, siapapun manusia yang mempelajari kerohanian merk apapun
apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya ( aura).
Cahaya ini bisa keluar melalui lima pintu indra tubuh , telinga, mata,
mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumya cahaya itu keluar lewat
mata dan mulut, sehingga apabila kita melihat orang ngelekas di
kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang
tersebut.
Pada prinsipnya ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti
seseorang, yang di pelajari adalah bagaimana dia mendapatkan sensasi
ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi
itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui
ngelekas atau ngerogo sukmo, kata ngelekas artinya kontraksi batin
agar badan astral kita bisa keluar, ini pula alasannya orang ngeleak
apabila sedang mempersiapkan puja batinnya di sebut "angeregep
pengelekasan".
Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum
di sebut "ndihan" bola cahaya melesat dengan cepat. Ndihan ini adalah
bagian dari badan astral manusia, badan ini tidak dibatasi oleh ruang
dan waktu dan di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam
dimensi batin yang lain.
Jangan salah… dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya, sebab tidak
semua orang bisa melihat ndihan, juga tidak sembarangan berani keluar
dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak. Peraturan yang
lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati,
orang ngeleak hanya shopingnya di kuburan ( pemuhunan) apabila ada
mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa
agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya, begini bunyi
doanya leak memberikan berkat, "ong, gni brahma anglebur panca maha
butha, anglukat sarining merta, mulihankene kite ring betara guru,
tumitis kita dadi manusia mahutama, ong rang sah, prete namah.."
sambil membawa kelapa gading untuk dipercikkan sebagai tirta.
Nah..di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam dikatakan leak
ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu.

KENAPA HARUS DI KUBURAN…

Paham leak adalah apapun status dirimu menjadi manusia, orang sakti,
sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan. Tradisi sebagian
orang di India tidak ada tempat yang tersuci selain di kuburan, kenapa
demikian di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit,
bagi penganut tantric bermeditasi di kuburan di sebut meditasi
"KAVALIKA". Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul
hal-hal yang meyeramkan, ini disebabkan karena kita jarang membuka
lontar "tatwaning ulun setra" sehingga kita tidak tahu sebenarnya
kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan
memberikan berkat doa. Sang Buda kecapi, Mpu kuturan, Gajah Mada, Diah
Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan, di
Jawa tradisi ini di sebut " TIRAKAT.
Di Bali ada beberapa daerah yang terkesan lucu mengganggap kuburan
adalah tempat sebel, leteh, ketika ada orang meninggal, atau ngaben,
tidak boleh sembahhyang ke pura karena sebel, padahal.. kalau ngaben
kita juga mengahaturkan panca sembah kepada Hyang Widi di kuburan,
lantas di mana letak beda sebel Pura dan sebel kuburan bagi TUHAN ?
itu hanya awig-awig manusia.
Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang
dipelajari, ada tujuh tingkatan leak, leak barak (brahma) ini baru
bisa mengeluarkan cahaya merah api, leak bulan, leak pemamoran, leak
bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah, leak siwa
klakah inilah yang tertinggi, sebab dari ke tujuh cakranya
mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya. Setiap
tingkat mempunyai kekuatan tertentu, di sinilah penganut leak sering
kecele, ketika emosinya labil ilmu tersebut bisa membabi buta atau
bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama
perguruan, sama halnya seperti pistol salah pakai berbahaya. Makanya
kestabilan emosi sangat penting, dan di sini sang guru sangat ketat
sekali dalam memberikan pelajaran.

BEDA PENESTIAN, PENGIWA, DAN LEAK.

Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta
sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran
yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut "penestian" ilmu
ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan
batin hitam ini disebut " PENGERANCAB". Adapun caranya adalah dengan
memancing kesalahan orang lain sehingga emosi, setelah emosi barulah
dia bereaksi, jadi emosi dijadikan pukulan balik bagi penestian.
Dalam ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji
gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh,
aji teluh teranjana, termasuk aji nomoto, he..he.. Aliran ini disebut
"pengiwa' ( tangan kiri) kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik
kekuatan selalu memasukan energy dari belahan badan kiri. Sedangkan
ilmu leak dari tangan kanan, makanya disebut penengen ( tangan kanan).
Pengwia banyak menggunakan rajah-rajah ( tulisan mistik) juga dia
pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgen
dan di lab, dan yang paling canggih adalah cetik ( racun mistik). Dan
aliran ini bertentangan dengan pengeleakan, apabila perang beginilah
bunyi mantranya, "ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung
leak, mapan aku mapawakan segara gni..bla..bla…".
Jadi kesimpulannya adalah leak tidak perlu di takuti, tidak ada leak
yang menyakiti, takutlah terhadap pikiran picik, dengki, sombong, pada
diri kita sebab itu sumber pengiwa dalam tubuh kita. Bila tidak
diantisipasi tekanan darah jadi naik, dan penyakit tiga S akan kita
dapat, Stres, Stroke, Setra. Pada hakekatnya tidak ada ilmu putih dan
hitam semua itu hati yang bicara, boleh jadi dasar ilmu yang di anut
hitam, namun digunakan untuk kebaikan, dan sangat tercela dasar ilmu
putih kita gunakan untuk kejahatan. Sama halnya seperti hipnotis, bagi
psikiater ilmu ini untuk penyembuhan, tapi bagi penjahat ilmu ini
untuk mengelabui serta menipu seseorang, tinggal kebijaksanaan kita
yang berperan. Pintar, sakti, penting namun..ada yang lebih penting
adalah kebijaksanaan akan membawa kita berpikir luas, dari pada
mengumpat serta takut pada leak yang belum tentu kita ketemu tiap
hari.

Sebelum seorang belajar ilmu leak terlebih dahulu harus diketahui
otonan orang tersebut ( hari lahir versi Bali) hal ini sangat penting,
karena kwalitas dari ilmu yang dianut bisa di ketahui dari otonanya,
satu contoh apabila murid mempunyai otonan SUKRA PON MEDANGSIA berarti
dewanya adalah Brahma, otomatis karakter orang tersebut cendrung
emosional dalam hal apapun, dan
digandrungi perempuan, nah..sang guru harus hati-hati memberikan
pelajaran ini kalau tidak murid akan celaka oleh ilmu tersebut.

Setelah diketahui barulah proses belajar di mulai, pertama-tama murid
harus mewinten Brahma widya, dalam bahasa lontar NGERANGSUKAN
KAWISESAN, dan hari baik pun tentunya dipilih oleh sang GURU.Tahap
dasar murid diperkenalkan dengan AKSARA WAYAH atau MODRE, dalam hal
ini
tidak bisa dieja aksara tersebut BAKU !!! Selajutnya murid diRajah
seluruh tubuh dari atas sampe bawah...oleh sang guru, hal ini di
lakukan di KUBURAN pada saat kajeng kliwon nyitan.

SUMPAH...

Selesai dari proses ini barulah sang murid sah diajarkan oleh sang
guru, ada 5 sumpah

yang dilakukan di kuburan :
1 hormat dan taat dengan ajaran yang di berikan oleh guru
2 Selalu melakukan ajapa-ajapa dan menyembah SIWA Dan DURGA dalam
bentuk ilmu kawisesan,
3 tidak boleh pamer kalau tidak kepepet, selalu menjalankan darma,
4 tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh bersetubuh ( zina)
5 tidak boleh menyakiti atau dengan carapapun melalui ilmu yang kita

pelajari...

Mungkin karena peraturan no 4 ini sangat ditakuti akhirnya kebanyakan
ilmu ini di pelajari oleh perempuan, sebab perempuan lebih kuat
menahan nafsu birahi dari laki-laki. Di Bali yang namanya Rangda
selalu indentik dengan wajah seram, tapi di jawa di sebut RONDO
berarti janda, inilah alasanya kenapa dahulu para janda lebih
menguasai ilmu pengeleakan ini dari pada laki-laki, dikarenakan wanita
lebih kuat nahan nafsu... Pada dasarnya kalau boleh

saya katakan ilmu ini berasal dari tanah Jawa, campuran aliran SIWA
dan BUDHA, yang di sebut dengan BAJRAYANA.

TINGKATAN PELAJARAN...

Tingkat satu kita diajari bagaimana mengendalikan pernafasan, di bali dan
bahasa lontar di sebut MEKEK ANGKIHAN, atau PRANAYAMA.

Tingkat dua kita diajarkan VISUALISASI,
dalam ajaran ini di sebut " NINGGALIN SANGHYANG MENGET"

Tingkat tiga kita diajar bagaimana kita
melindungi diri dengan tingkah laku yang halus serta tanpa emosi dan
dendam, di ajaran ini di sebut "PENGRAKSA JIWA.

Tingkat empat kita di ajar kombinasi antara
gerak pikiran dengan gerak tubuh, dalam bahasa yoga di sebut MUDRA,
karena mudra ini berupa tarian jiwa akhirnya orang yang melihat atau
yang nonton di bilang " NENGKLENG ( berdiri dengan kaki satu ).

Mudra yang kita pelajari persis seperti tarian siwa nata raja.

Tingkat empat barulah kita diajar MEDITASI,
dalam ajaran pengeleakan disebut " NGEREGEP, yaitu duduk bersila tangan
disilangkan di depan dada sambil mengatur pernafasan sehingga pikiran kita
tenang...atau ngereh, dan ngelekas..

Tingakat lima kita di ajarkan bagaimana
melepas roh ( MULIH SANGHYANG ATMA RING BAYU SANDA IDEP ) melalui
kekluatan pikiran dan batin dalam bahasa sekarang disebut LEVITASI,
berada di luar badan. Pada saat levitasi kita memang melihat badan
kita terbujur kaku tanpa daya namun kesadaran kita sudah pindah ke
badan halus, dan di sinilah orang disebut berhasil dalam ilmu leak
tersebut, namun..ini cukup berbahaya kalau tidak waspada dan kuat iman
serta mental kita akan keliru, bahkan kita bisa tersesat di alam gaib.
Makanya kalau sampai tersesat dan lama bisa mati, ini disebut mati
suri, maka begawadgita benar sekali, ( apapun yang kamu ingat pada
saat kematian ke sanalah kamu sampai...dan apapun yang kamu pikirkan
begitulah jadinya )

Tentu dalam pelajaran ini sudah pasti dibutuhkan ketekunan, puasa,
berbuat baik, sebab ilmu ini tidak akan berhasil bilamana dalam
pikiran menyimpan perasaan dendam, apalagi kita belajar ilmu ini untuk
tujuan tidak baik saya yakin tidak akan mencapai tujuannya. Kendati
demikian godaan selalu
akan datang seperti, nafsu sek meningkat, ini alasanya kenapa tidak
boleh makan daging kaki empat, dan kita diajurkan tidur di atas jam 12
malam agar konisi agak lemah sehingga nafsu sek berkurang..kata guru
saya kalau ada orang mempelajari leak tidur sore-sore disebut LEAK
SANJE didoktrin,
padahal menurut saya agar kondisi agak lemah saja. Dan tengah malam
tepat jam 12 kita diwajibkan untuk meditasi sambil mencoba melepas
roh, tapi di ajurkan yang deket-deket dulu, jangan coba-coba shoping
ke MONAS dari BALI...he,he.. yach...paling-paling ke parit, sawah,
atau ke sungai,..

Celakanya apabila kita melepas ROH pas lewat di rumah tetangga yang sedang
mempunyai BAYI otomatis bayi tersebut pasti terbangun dan menagis
teriak-teriak, hal ini disebabkan frekwensi bayi sama seperti kita.
sebab bayi masih peka banget. Bayi tersebut tidak takut cuma kaget aja
ada SEPLETERAN yang lewat, kayak handphone adu signal n
blenggg...inilah yang dikatakan
sama orang awam bahwa bayi itu di " AMAH LEAK" padahal tidak. Maka
dari itu dalam dunia leak, ada aturan dilarang keras untuk lewat atau
berada di keluraga yang mempunyai bayi untuk melepas ROH..( ngelekas,
ngereh, ). Nah...bagi yang jahil tidak tertutup kemungkinan melepas
roh dan mondar mandir di depan rumah orang yang punya bayi, ini yang
sering terjadi di BALI, sehingga leak namanya rusak banget dan di
tuduh nyakitin. Apalagi ada orang
sakit keras, kita iseng lewat atau sekedar jenguk melalui ROH sudah
dipastikan orang tersebut kaget dan bisa jadi denyut jantung berhenti,
alhasil MATI inilah hal-hal yang oleh orang awam di katakan bahwa leak
itu jahat...makanya sang balian yang bijak akan memagari rumah orang
sakit atau yang punya
bayi itu dengan aksara tertentu, yang artinya sebagai simbul PARA
PENGANUT LEAK DILARANG MASUK !!!

Apabila ini di langgar perang atara leak dan balian pun terjadi
masalah kalah dan menang tergantung sapa yang mumpuni, disini tidak
lagi berbicara dari fakultas mana, atau universitas mana tapi sudah
PERANG...KAWISESAN>>>
Nah inilah yang sering terjadi di Bali yang di sebut dengan SIAT
PETENG, pada umumnya dari pihak leak yang sering kalah, sebab leak
tidak mempelajari ilmu
menyerang..namun ilmu bertahan, sedangkan balian bisa saja ngiwa
tengen, positif negatif..udah pasti dia yang menang, nyakitin bisa,
ngobati juga bisa, ini yang di sebut balian ngiwa tengen...

Pada umumnya, penganut ilmu leak ( ngisinin jengah) ..terpacing emosi, inilah
kelemahanya apabila itu terjadi sudah dipastikan ilmu hitam yang
menang sebab emosi adalah makanan ilmu hitam... Kalau penganut ilmu
leak memegang teguh janjinya dia tidak akan berontak bilamana
terpancing emosinya, malah dia mendoakan dan memaafkan sudah pasti dia
yang menang..sebab itulah
dasar ilmu leak tersebut, sabar dan darma untuk mencapai tujuan.

SANGKEPAN LEAK....

Kata ini juga sering kita denger sehingga timbul pertanyaan apakah
LEAK ada rapatnya, atau REUNI, serta bagi ibu-ibu ARISAN LEAK, TEMPEK
INI, DAN ITU, he,he,hahhha.. Yang bener adalah dalam dunia leak sama
seperti perkumpulan spiritual, pada hari-hari tertentu pada umumnya
KAJENG KLIWON, kaum leak mengadakan puja bakti bersama memuja SIWA,
DURGA, BERAWI, biasanya di pura dalem atau di Kuburan, Prajapti..dalam
bentuk NDIHAN, bukan kera, anjing, dan lain-lain.

Saya tekankan lagi sekali ilmu leak bukan ilmu merubah wujud, jadi
kalu ada yang bilang melihat KERA, PITIK BEGIL dan lain-lain itu yang
melihat kena sihir,
akibat biasa nonton PERCAYA GA PERCAYA, atau UJI NYALI... jadi kata
sangkepan leak bisa dibenarkan namun..sesungguhnya bukan rapat tapi
puja bakti, hanya itu !!! dan hal ini sekarang sudah langka
baget..sebab para leak udah pindah ke kota semua he..he..apalagi
sekarang banyak LEAK
MATAH...he,he, berbuat jahat mengatasnakaman kebenaran tuk mencapai
tujuan

KEKUATAN LEAK TERLETAK PADA SIHIRNYA...

Baru-baru ini saya dishoting oleh stasiun TV Saswta Jakarta , dan maaf
saya tidak sebutkan, sebagai uji coba bisa ga di shot oleh kamera.
Saya tahu beberapa orang yang mencela serta apriori dengan ilmu leak,
terutama kru TV tersebut, di sinilah kelemahan orang tersebut bagi
saya...lalu saya suruh menatap mata saya, dan baca
mantra..abrakedabra...tiga kru TV lari..sambil menjerit...katanya dia
melihat saya kayak patung Rangda, yang kebetulan
sebelum shoting saya ajak ke pasar SUKAWATI untuk liat-liat
patung-patung meyeramkan itu...he,he he..sedangkan ada lagi 3 orang
yang saya tahu imannya cukup bagus, dia melihat saya biasa-biasa
aja....

Makanya tidak gampang NGELEAKIN ORANG, apalagi orang tersebut kuat
iman, rajin meditasi, berdoa, sampe berbuih pun mulut kita komat-kamit
baca mantra, gak bisa bikin takut, paling-paling diledekin, kok tidak
berubah....he he he he..

Makanya cobalah SEMETON tanya dan kumpulkan 10 orang pernahkah
mendengar leak..jawbnya PERNAHHHHHHH...pernakah melihat
leak..TIDAKKKKKKKK...tidak setiap orang mampu melihat leak dan tidak
setiap leak berkuasa atas diri orang lain.

DASA AKSARA BUKAN DASAR ILMU LEAK...

Pernah mendengar dasa aksara atau yang umum di jabarkan sebagai
berikut, SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, YANG.
ilmu ini adalah dasar dari sepuluh prana atau DASA BAYU.. dasa aksara
ini mempunyai arti memuliakan dewa SIWA, seperti SAGORA, BAMADEWA,
TATPURUSHA..dan selanjutnya. Dasa aksara ini murni dibawa oleh aliran
SIWA
SHIDANTA dan bagian untuk mencapai pencerahan batin melalui aksara
tersebut, hasilnya hampir mirip sama-sama mengeluarkan CAHAYA namun
tidak spesifik..Sedangkan PANCA GNI WIJAKSARA, sangat spesifik sekali,
SAYANG...SEMETON..saya tidak berani katakan sebab ini bagian dari
sumpah saya...untuk tidak mengatakan hal ini, kecuali semeton mau
belajar...he,he...

Dasa aksara lebih banyak akan mengakses kedunia kerohanian bukan
KEWISESAN(KEBIJAKSANAAN) ...sehingga dasa akasara ini akan mencapai
puncaknya apabila seseorang memurnikan batinya melalui dasa yama
brata, dan ini murni ilmu krohanian...

Jadi demikian semeton yang bisa saya sampaikan, mudah mudahan tulisan
ini menambah wawasan di bidang ilmu leak sehingga besok-besok kita
tidak MILU_MILU TUWUNG mengatakan LEAK itu jahat..atau tanpa tahu
sebabnya kita getok KULKUL supaya banjar datang tuk menggerebeg orang
yang di katakan bisa NGELEAK. Seperti kata semeton juga, YA SAKTI SANG
SAJANA DARMA RAKSAKA, orang yang bijaksana pasti berpegang teguh pada
DARMA, dan orang yang berpegang darma sudah pasti bijaksana.

Orang yang sakti belum tentu suci hatinya, namun orang yang suci sudah
pasti SAKTI tingkah lakunya, jaman sekarang sulit membedakan mana yang
benar dan mana yang tidak benar, kecuali bertanya pada kedalaman hati
kita masing-masing... sebuah lentera akan padam apinya, apabila
minyaknya megering, namun jangan pernah padamkan api rohani n
kebersamaan melalui persahabatan...

Link SEO


Google SEO Tools

  • Google Sitemaps – membantu monitoring site Anda, apabila Google mempunyai masalah pengindex-an website.
  • AdWords Keyword Tool – menampilkan kata kunci yang sesuai dengan yang dikehendaki.
  • AdWords Traffic Estimator – mengestimasi berapa bid price yang diminta untuk rank #1 on 85% di Google AdWords ads Google, dan berapa traffic yang mampu di dapat.
  • Google Suggest – didasarkan pada auto completes search queries di awal pencarian dengan character atau kata kata yang Anda masukkan.
  • Google Trends – menampilkan multi-year search trends.
  • Google Sets – membuat semantically related keyword sets yang didasarkan pada keywordyang dimasukkan.
  • Google Zeitgeist – menampilkan pencarian yang cepat.

Yahoo! SEO Tools


MSN SEO Tools


Search Engine Vertical

« Older entries Newer entries »