Interesting Research…………….

  Aoccdrnig to a rscheearch at an Elingsh uinervtisy, it deosn’t mttaer in waht oredr the ltteers in a wrod are, the olny iprmoetnt tihng is taht frist and lsat ltteer is at the rghit pclae. The rset can be a toatl mses and you can sitll raed it wouthit porbelm. Tihs is bcuseae we do not raed ervey lteter by itslef but the wrod as a wlohe.

What’s Your Japanese Name.??

My Japanese Name Is…

Souta Matsumoto

Tawa dan Tangis

Kita memang cendrung untuk mencari mudahnya saja,

akan tetapi tanpa derita, tiada kebijaksanaan.

Untuk benar-benar meraih kebijaksanaan,

Anda mesti luruh dan terbenam dalam cucuran airmata kesadaran

ketika Anda menjalani latihan spiritual Anda, sekurang-kurangnya tiga kali.

~Ajahn Chah.

“Tertawa itu sehat!” Saya rasa Anda pernah mendengar jargon ini. Namun hati-hati, tidak semua tawa menyehatkan atau merupakan tawa yang sehat. Orang gila yang tertawa-tawa sendiri itu, yang entah apa yang diterwainya itu, jelas bukan orang sehat. Tidak semua tawa itu sehat dan menyehatkan.

Jangankan tawa, tangispun ada yang menyehatkan, yang menyadarkan, yang mentransformasikan tataran mental dan spiritual seseorang. Pernahkah Anda mendengar istilah ‘tangisan kesadaran’? Itulah tangis yang menyehatkan. Baik tawa maupun tangis bisa sama-sama menyehatkan jasmani dan rokhani kita. Bukan tawa saja. Memang benar kalau kita tertawa, kita merasa senang; ada sebentuk kelegaan sesudahnya. Namun, kelegaan serupa juga kita rasakan sesudah menangis, walaupun tidak disertai rasa senang. Rasa senang boleh jadi terasa menyehatkan\n —karena ada sejenis kepuasan di dalamnya— namun yang sebetulnya menyehatkan adalah ‘kelegaan’ yang menyertainya. Bukan rasa senang itu sendiri. Demikian juga seusai kita menangis.

Kita tahu, menangis belum tentu berarti kita bersedih, belum tentu lantaran desakan dari ‘rasa iba-diri’. Kita juga mengenal ‘tangisan haru’, atau menangisi kesengsaraan orang lain. Menangisi diri sendiripun bisa menyehatkan, dan bisa juga sebaliknya. Kalau saya menangisi diri sendiri lantaran kuatnya ‘rasa iba-diri’ saya terhadap diri saya sendiri, maka itu adalah ‘tangisan egoistis’, tidak menyehatkan, tidak menyadarkan. Demikian juga halnya menangisi orang lain, yang tampaknya non-egoistis, namun sebetulnya lantaran kuatnya ‘rasa-kepemilikan’ kita terhadap orang itu. Makanya, baik tangis maupun tawa bisa sehat dan juga tidak sehat tergantung, mengapa kita menangis, apa atau siapa yang ditangisi, dan terutama\n kualitas dorongan di dalam yang membuat kita menangis.
Bali, Rabu, 13 September 2006.
___________________________
Baca juga: “Tawa yang bagus”, “Tangisan Kesadaran”, “Meditasi Tertawa”, dan yang lainnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bila Anda berani benar-benar telanjang,
semua akan tampak telanjang di mata Anda.
~anonymous 060606-05.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ \n\t\t


“,1] ); //–>terasa menyehatkan —karena ada sejenis kepuasan di dalamnya— namun yang sebetulnya menyehatkan adalah ‘kelegaan’ yang menyertainya. Bukan rasa senang itu sendiri. Demikian juga seusai kita menangis.

Kita tahu, menangis belum tentu berarti kita bersedih, belum tentu lantaran desakan dari ‘rasa iba-diri’. Kita juga mengenal ‘tangisan haru’, atau menangisi kesengsaraan orang lain. Menangisi diri sendiripun bisa menyehatkan, dan bisa juga sebaliknya. Kalau saya menangisi diri sendiri lantaran kuatnya ‘rasa iba-diri’ saya terhadap diri saya sendiri, maka itu adalah ‘tangisan egoistis’, tidak menyehatkan, tidak menyadarkan. Demikian juga halnya menangisi orang lain, yang tampaknya non-egoistis, namun sebetulnya lantaran kuatnya ‘rasa-kepemilikan’ kita terhadap orang itu. Makanya, baik tangis maupun tawa bisa sehat dan juga tidak sehat tergantung, mengapa kita menangis, apa atau siapa yang ditangisi, dan terutama kualitas dorongan di dalam yang membuat kita menangis.