YOGA: Suatu Studi dan Praktek

Sumber : mayapadaprana

YOGA: Suatu Studi dan Praktek

Transformasi-diri dan pertumbuhan spiritual merupakan konsep penting dalam filsafat agama manapun. Transformasi-diri dan pertumbuhan spiritual juga merupakan konsep praktis, karena realisasinya melibatkan pengintegrasian dan pengharmonisan aspek emosional, mental dan spiritual dari hakikat kita. Salah satu cara yang dipilih oleh banyak orang pada transformasi-dalam/Inner transformation adalah melalui displin yoga.

Di masa ini banyak orang yang penuh pertimbangan berminat mempelajari berbagai bentuk yoga dan merasakan hasrat mendalam untuk menemukan ketenangan-dalam/Inner peace atau mencapai pertumbuhan spiritual. Jadi mari kita lihat lebih jelas apakah yoga ini, apa artinya, apa saja yg dilakukannya, dan bagaimana kita mempraktekkannya sebagai jalan menuju pemenuhan-pemahaman-diri/Full Self Realization.

Apa itu Yoga?

Kata “Yoga,” berasal dari terminologi Sansekerta seperti halnya “yoke” dalam bahasa Inggris berarti “menyatukan” dan mengimplikasikan persatuan aspek pribadi kita dengan Sumber Ilahiah darimana kita berasal. Jadi Yoga dapat diartikan sebagai transformasi hakikat pribadi kita agar lebih responsif terhadap Diri-dalam/Inner self, dan transformasi ini akan mengarahkan kita pada pencapaian kebersatuan kesadaran-diri (at-one-ment) dengan esensi ilahi atau
spiritual: Prinsip Yang Maha Tunggal dalam semesta. Yoga mengacu pada penyatuan diri yang lebih rendah dengan Diri yang lebih tinggi dan
juga pada cara-cara untuk mencapai penyatuan tersebut. Jadi Yoga merupakan studi mendalam sekaligus merupakan disiplin pragmatis.

Unsur apa saja yang dilibatkan dalam Yoga?

Ada berbagai sistem yang berbeda dalam mempelajari yoga, tapi kesemua metodenya melibatkan disiplin-diri dan penjelajahan-diri.
Semua sistem ini mengenali keabsahan pelatihan dasar tertentu :
pengendalian tubuh melalui postur dan pernafasan yang tepat;
pengendalian emosi dan pikiran;
meditasi dan kontemplasi. Dalam tiap pelatihan yoga unsur-unsur esensial tadilah yang dilibatkan.

Kebanyakan praktisi yoga menganggap Yoga Sutra dari Patanjali sebagai buku pegangan yang paling penting. “Delapan anggota” atau delapan aspek yoga, yang digarisbawahi oleh Patanjali dipertimbangkan sebagai panduan seluruh bentuk pelatihan yoga. “Anggota” yang pertama dikenal sebagai “yama” atau pelatihan pengekangan-diri dan yama yang pertama disebut “ahimsa” atau tidak menyakiti makhluk lain. Dikatakan bahwa ahimsa merupakan jantungnya disiplin yoga.

Buku pegangan yoga yang lain adalah naskah agung Hindu, Bhagavad Gita. Mempelajari karya ini merupakan harga tak ternilai bagi pelajar pemula.

Di bawah ini kami berikan penjabaran beberapa bentuk yoga yang terkenal, namun perlu diingat bahwa tiap-tiap sistem yang disebutkan di sini melibatkan banyak hal dalam hidup yang disiplin dan pelatihan yang teratur, lebih dari yang bisa diberikan dalam ulasan singkat ini.

Hatha Yoga

Kebanyakan yoga yang populer di dunia Barat adalah dua bentuk yoga, salah satunya dikenal dengan Hatha Yoga. Sistem ini memberi perhatian pada postur tubuh dan pengendalian pernafasan. Seringkali orang melupakan bahwa sistem ini juga melibatkan pelatihan meditasi. Jadi walaupun Hatha Yoga menitikberatkan pada pelatihan tubuh fisik, sesungguhnya pelatihan tadi adalah untuk memungkinkan tubuh merespons dorongan Kehadiran Ilahi dalam diri. Ketika tubuh didisiplinkan, tubuh tidak lagi gelisah, kegelisahan ini merupakan gangguan saat meditasi. Banyak praktisi menekankan nilai therapeutik (penyembuhan) dari Hatha Yoga, karena kalau dilatih dengan baik akan meningkatkan kesejahteraan fisik. Keadaan tubuh yang baik menunjang pertumbuhan
spiritual.

Mantra Yoga

Sistem Mantra Yoga sangat populer belakangan ini, dengan merapalkan (chanting) kalimat suci atau kata-kata pemujaan dan konsentrasi terpusat. Sistem ini melibatkan pengetahuan kekuatan okultik dari suara. Tujuan dari Mantra Yoga adalah menyelaraskan sifat pribadi dengan nada gelombang kesadaran yang jauh lebih tinggi dan lebih halus sifatnya dari kesadaran sehari-hari (kesadaran waktu kita bangun). Tujuan puncaknya adalah agar individu dapat “mendengar”
Suara Ilahi dalam-diri kita, bukan melalui telinga atau mekanisme fisik melainkan melalui indera super kita.

Bhakti Yoga

Bhakti Yoga adalah jalan pengabdian. Sistem ini menekankan cinta kasih, penyerahan-diri pada Spirit Ilahi atau Yang Tertinggi. Seringkali kita menemui personifikasi Yang Tertinggi dalam bentuk- bentuk tertentu pada individu yang mengambil jalan ini. Hal ini bisa berupa inkarnasi ilahi/avatar seperti halnya Kristus, Krishna, Baba, Babaji, ataupun gambaran mental dari Ilahi secara personal. Sistem ini sering disebut sebagai yoga Nasrani, tapi sistem ini juga kita
jumpai dalam berbagai agama dimana ditekankan penyerahan diri pribadi dan pengabdian sebagai tujuan ideal. Bhakti yoga adalah jalan yang telah menolong banyak orang dalam pendakian ke puncak gunung penyatuan spiritual. Seperti contoh yang diberikan oleh para santa- santo/para nabi/para maha rishi/para wali dimana untuk mendaki lebih tinggi ke arah Ilahi, maka kehidupan pribadi harus diserahkan pada Kehidupan Ilahi secara mutlak. Oleh karenanya jalan ini adalah jalan yang tepat bagi orang-orang yang bersifat pengabdi/bhakti, yang dengan gembira melenyapkan diri mereka pada Yang Maha Tinggi.

Karma Yoga

Sesuai dengan namanya, yoga ini melibatkan karma (=tindakan). Tujuan dari Karma Yoga adalah mencapai persatuan dengan Yang Maha Tinggi melalui tindakan yang benar, yaitu tindakan yang dilakukan apa adanya tanpa mengharapkan imbalan (selfless service). Ini adalah jalan bagi mereka yang digerakkan oleh rasa simpati, dan welas-asih terhadap orang-orang yang menderita. Jalan ini adalah bagi mereka yang dengan semangat berusaha meringankan beban penderitaan dan
kesedihan orang lain. Jalan ini menekankan kemurnian motif tanpa dinodai oleh kepentingan pribadi. Melalui tindakan altruistik, pengikut Karma Yoga akan sampai pada pemahaman kehidupan yang lebih mendalam dan menjadi lebih dekat dengan Kehidupan Ilahi yang dijumpaipada semua makhluk.

Jnana Yoga

Kalau Bhakti Yoga menggunakan jalan pengabdian dan Karma Yoga menggunakan jalan tindakan, maka ada juga jalan lewat ilmu pengetahuan Jalan ini dikenal engan sebutan Jnana Yoga (sering dieja “Gnana”); tujuannya adalah untuk mewujudkan kebenaran hidup. Kata “jnana” terdengar familier, mirip dengan kata “gnosis”. Arti kedua kata tersebut sama yaitu pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud di sini bukannya pengetahuan external tentang benda-benda melainkan pengetahuan alam realitas. Guru agung Jnana Yoga, Shankaracharya, si bijak dari India, menuliskan karyanya yang berjudul “Viveka Chudamani”. Karyanya ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Secara harafiah berarti “permata puncak dari diskriminasi” namun viveka dapat juga berarti “insight” atau bahkan “kebijaksanaan”. Svami Shankaracharya membedakan antara mereka yang ingin memiliki dan mereka yang ingin mengetahui. Di puncaknya hanya ada satu hal untuk diketahui yaitu sang Diri Tunggal yang identik dengan Tuhan, Alloh, Causa Prima atau Brahman, sebagai satu-satunya Sumber segala bentuk
keberadaan, seperti yang dikenal dalam filsafat Vedanta, yang menjadi dasar dari Jnana Yoga.

Raja Yoga

Terkadang disebut sebagai bentuk yoga yang paling tinggi, Raja Yoga – The Science of The Kings/Ilmu para raja – menggabungkan aspek-aspek utama dari sistem yoga lainnya. Jalan ini menggunakan disiplin dan pelatihan untuk memurnikan emosi, meluaskan intelek dan mengendalikan tiap komponen hakikat kita dibawah kehendak (will). Tujuan yoga ini adalah mengurangi dan akhirnya menghilangkan identifikasi dengan personalitas sehingga timbul kesadaran bahwa Diri Kekal kita itu identik dengan Hidup Ilahi Yang Tunggal.

Azas Raja Yoga dapat kita jumpai dalam aphorisme/perumpamaan (”sutra”) dari Patanjali, yang karyanya telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris lengkap dengan komentar dan ulasan.Dalam perumpamaan Patanjali terdapat langkah-langkah untuk mempersiapkan diri pada yoga sejati berikut dengan latihan-latihannya. Untuk mempersiapkan diri, kita harus bertindak benar dalam pikiran, perkataan dan perbuatan; menjalankan kehidupan moral, dan mengekspresikan prinsip-prinsip etis fundamental yang dijumpai di semua agama besar. Untuk melatihnya kita harus melakukan introspeksi-diri dengan teratur secara berkala;
caranya adalah dengan menutup kesadaran dari panca indera kita sehingga kesadaraan kita bisa bebas dari gangguan dunia untuk sementara waktu. Ini sesuai dengan tujuan Raja yoga agar kita mempersiapkan transisi dari kesadaran eksternal menuju pada kesadaran internal.

Yoga & Meditasi

Meditasi merupakan bagian penting di setiap bentuk yoga. Patanjali menekankan pentingnya pengendalian pikiran dan penenangan untuk mencapai transendensi pikiran, lewat Raja yoga, Patanjali meramunya dalam 3 langkah: konsentrasi, meditasi dan kontemplasi. Pada prakteknya 3 langkah ini saling tumpang tindih tapi dalam yoga sutra sengaja dituliskan terpisah untuk memudahkan studi.

Yoga dimulai dengan konsentrasi. Mengapa? Karena pikiran kita selalu bergerak, liar dan tidak mau tinggal diam. Pikiran kita dipenuhi dengan berbagai kenangan, memory dan berbagai keinginan untuk menjadi atau untuk memiliki; pikiran sangat mudah terganggu oleh hal-hal sepele. Oleh karena itu kita mulai dengan berkonsentrasi pada hal-hal yang sederhana seperti misalnya sebuah benda atau sebuah gagasan, dan membiarkan konsentrasi kita pada benda tersebut semakin
intens terserap olehnya, dan kita menolak memberikan perhatian bagi hal-hal lainnya. Kalau pikiran mulai berkeliaran, dengan lembut kembalikan konsentrasi pada benda tersebut.

Setelah mampu menguasai konsentrasi, langkah selanjutnya adalah meditasi. Meditasi dijabarkan sebagai aliran pikiran yang teratur dan terus-menerus terhadap sebuah obyek, misalnya sebuah bunga, salib, cakra, nafas, atau kualitas yang tidak dapat terlihat (misalnya, nama baik seorang Guru Agung/kata-kata Ilahiah lainnya), gagasan abstrak, atau objek lainnya yang kita pilih sendiri. Proses ini lebih mendalam dari sekedar konsentrasi dan mengarah menuju keadaan dimana kita masuk menyadari bahkan menjadi apa yang kita pikirkan dan konsentrasikan tadi. Ini melibatkan upaya menembus imaji dan bentuk untuk dapat mengidentifikasikan diri dengan kehidupan dalam obyek yang dipilih tadi.

Selanjutnya diikuti dengan proses kontemplasi. Dalam tahap ini kita tidak lagi tertarik pada sebiah obyek, sebuah gagasan atau seseorang, tetapi kita membawa pikiran kita pada keadaan ketenangan absolut. Harus diperhatikan bahwa keadaan ini bukanlah keadaan pasif melainkan keadaan dengan kesadaran positif; sebuah ketenangan yang memberikan perasaan utuh dan kedamaian yang dinamis. Keadaan ini tidak melampaui kesadaran, namun mentransformasi individu, dan
memberikan ketenangan sejati serta kepastian-dalam yang secara praktis akan banyak membantu kehidupan kita sehari-hari. Dalam tahap kontemplasi ini, amat mungkin kita mencapai pencerahan dan insight dari Diri Spiritual dan perasaan menyebar akan kesatuan kehidupan akan terwujudkan.

Tujuan Yoga

Semua bentuk disiplin/sistem Yoga merupakan jalan yang mengarahkan indivdu mencapai persatuan dengan Atman/Spirit Tertinggi. Persatuan ini disebut “Samadhi” dalam naskah-naskah yoga, “Kesadaran Krishna” dalam Krishna Consciousness Movement, “Satori” dalam Zen Buddhisme, “Kesadaran Kristus” dalam mistisisme Nasrani, “Manunggaling Kawula Gusti” dalam Kejawen, dll. Apapun juga istilah yang digunakan hal ini berarti pembebasan spirit individual dari kesadaran sehari-hari dan Memasuki getaran-kebahagiaan Sang Sumber yang dilambangkan secara indah lewat kalimat, “Sang butir embun telah pulang pada lautan cahaya yang bersinar”.

BAHAN BACAAN LANJUTAN YANG DISARANKAN

o An Introduction to Yoga by Annie Bessant
o Seven Schools of Yoga by Ernest Wood
o Application of Yoga to Daily Life by Ianthe Hoskins
o Raja Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Hatha Yoga: A Simplified Course by Wallace Slater
o Integral Yoga by Haridas Chaudhuri
o The Science of Yoga by I.K. Taimni
o A Student’s Companion to Patanjali by Roger Worthington
o Yoga: The Art of Integration by Rohit Mehta
o The Universal Yoga Tradition by Radha Burnier
o Initiation into Yoga by Sri Krishna Prem
o A History of Yoga by Vivian Worthington
o Yoga: The Technology of Ecstasy by George Feurstein
o Viveka Chudamani translated by Mohini M Chatterji
o The Pinnacle of Indian Thought by Ernest Wood

2 Comments

  1. oming said,

    December 26, 2008 at 11:36 pm

    Artikel bagus..!
    Salam kenal, saya fans berat Yoga..

  2. arix said,

    November 18, 2009 at 7:42 pm

    Suksema pak made, krn memudahkan saya untuk mencari materi tentang yoga. Dan saya ikut dalam UKM “YOGA” Utk lebih bz berpikir yang positif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: