Tawa dan Tangis

Kita memang cendrung untuk mencari mudahnya saja,

akan tetapi tanpa derita, tiada kebijaksanaan.

Untuk benar-benar meraih kebijaksanaan,

Anda mesti luruh dan terbenam dalam cucuran airmata kesadaran

ketika Anda menjalani latihan spiritual Anda, sekurang-kurangnya tiga kali.

~Ajahn Chah.

“Tertawa itu sehat!” Saya rasa Anda pernah mendengar jargon ini. Namun hati-hati, tidak semua tawa menyehatkan atau merupakan tawa yang sehat. Orang gila yang tertawa-tawa sendiri itu, yang entah apa yang diterwainya itu, jelas bukan orang sehat. Tidak semua tawa itu sehat dan menyehatkan.

Jangankan tawa, tangispun ada yang menyehatkan, yang menyadarkan, yang mentransformasikan tataran mental dan spiritual seseorang. Pernahkah Anda mendengar istilah ‘tangisan kesadaran’? Itulah tangis yang menyehatkan. Baik tawa maupun tangis bisa sama-sama menyehatkan jasmani dan rokhani kita. Bukan tawa saja. Memang benar kalau kita tertawa, kita merasa senang; ada sebentuk kelegaan sesudahnya. Namun, kelegaan serupa juga kita rasakan sesudah menangis, walaupun tidak disertai rasa senang. Rasa senang boleh jadi terasa menyehatkan\n —karena ada sejenis kepuasan di dalamnya— namun yang sebetulnya menyehatkan adalah ‘kelegaan’ yang menyertainya. Bukan rasa senang itu sendiri. Demikian juga seusai kita menangis.

Kita tahu, menangis belum tentu berarti kita bersedih, belum tentu lantaran desakan dari ‘rasa iba-diri’. Kita juga mengenal ‘tangisan haru’, atau menangisi kesengsaraan orang lain. Menangisi diri sendiripun bisa menyehatkan, dan bisa juga sebaliknya. Kalau saya menangisi diri sendiri lantaran kuatnya ‘rasa iba-diri’ saya terhadap diri saya sendiri, maka itu adalah ‘tangisan egoistis’, tidak menyehatkan, tidak menyadarkan. Demikian juga halnya menangisi orang lain, yang tampaknya non-egoistis, namun sebetulnya lantaran kuatnya ‘rasa-kepemilikan’ kita terhadap orang itu. Makanya, baik tangis maupun tawa bisa sehat dan juga tidak sehat tergantung, mengapa kita menangis, apa atau siapa yang ditangisi, dan terutama\n kualitas dorongan di dalam yang membuat kita menangis.
Bali, Rabu, 13 September 2006.
___________________________
Baca juga: “Tawa yang bagus”, “Tangisan Kesadaran”, “Meditasi Tertawa”, dan yang lainnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bila Anda berani benar-benar telanjang,
semua akan tampak telanjang di mata Anda.
~anonymous 060606-05.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ \n\t\t


“,1] ); //–>terasa menyehatkan —karena ada sejenis kepuasan di dalamnya— namun yang sebetulnya menyehatkan adalah ‘kelegaan’ yang menyertainya. Bukan rasa senang itu sendiri. Demikian juga seusai kita menangis.

Kita tahu, menangis belum tentu berarti kita bersedih, belum tentu lantaran desakan dari ‘rasa iba-diri’. Kita juga mengenal ‘tangisan haru’, atau menangisi kesengsaraan orang lain. Menangisi diri sendiripun bisa menyehatkan, dan bisa juga sebaliknya. Kalau saya menangisi diri sendiri lantaran kuatnya ‘rasa iba-diri’ saya terhadap diri saya sendiri, maka itu adalah ‘tangisan egoistis’, tidak menyehatkan, tidak menyadarkan. Demikian juga halnya menangisi orang lain, yang tampaknya non-egoistis, namun sebetulnya lantaran kuatnya ‘rasa-kepemilikan’ kita terhadap orang itu. Makanya, baik tangis maupun tawa bisa sehat dan juga tidak sehat tergantung, mengapa kita menangis, apa atau siapa yang ditangisi, dan terutama kualitas dorongan di dalam yang membuat kita menangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: